Header Ads

Abe Masih Akan Melanjutkan Kenaikan Pajak Meskipun Permintaan Global Melambat

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe kemungkinan masih akan melanjutkan program kenaikan pajak penjualan yang sebelumnya dijadwalkan pada bulan Oktober, meskipun laju permintaan global masih mengalami perlambatan serta ditambah dengan pertumbuhan upah yang rendah yang masih berpotensi memberikan beban kepada laju perekonomian negara tersebut.

Hal ini disampaikan oleh salah seorang anggota parlemen senior dari Partai yang berkuasa, Kozo Yamamoto yang juga merupakan salah satu arsitek dari kebijakan stimulus Jepang yang lebih dikenal dengan Abenomics. Yamamoto juga menyampaikan bahwa keputusan Bank of Japan pada 2016 lalu untuk merubah target kebijakannya menjadi terfokus kepada suku bunga dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh Bank of Japan untuk memulai ekonomi Jepang dibawah kerangka kebijakan saat ini yang menargetkan suku bunga.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa saat ini penurunan suku bunga sudah bukan merupakan langkah yang efektif seperti halnya pembelian aset dalam skala yang besar. Dalam pernyataannya kepada Reuters, Yamamoto mengatakan bahwa bank sentral Jepang harus membeli obligasi pemerintah secara lebih agresif lagi, meskipun hal tersebut merupakan suatu langkah yang sulit dilakukan dibawah kerangka kebijakan saat ini.

Yamamoto juga menegaskan bahwa dirinya menentang kenaikan pajak penjualan menjadi 10% dari 8% pada Oktober nanti, seiring pertumbuhan upah yang tetap lemah, namun beliau juga tidak mampu meyakinkan Abe untuk melakukan penundaan kenaikan yang telah ditunda sebanyak dua kali saat keduanya membicarakan hal tersebut secara luas pada Mei 2018 lalu. Hal ini disampaikan Abe kepada Yamamoto bahwasanya apa yang dikatakan oleh Yamamot itu benar secara teori namun sangat sulit dilakukan secara politis untuk menunda kenaikan pajak penjualan.

Kozo Yamamoto merupakan salah satu pejabat negara yang memainkan peran kunci dalam penyusunan kebijakan stimulus dari Shinzo Abe, yang menggabungkan antara pelonggaran moneter yang berani, kebijakan fiskal yang fleksibel dan reformasi strutural. Beliau juga dikenal sebagai salah satu pendukung pengeluaran fiskal agresif yang vokal dan secara konsisten terus memberikan desakan kepada BoJ untuk meningkatkan pembelian obligasi untuk ekonomi Jepang.

Ketegangan perdagangan antara AS-Cina serta melambatnya laju permintaan dari Cina, telah memberikan pukulan bagi laju ekspor dan output di Jepang, sehingga memicu kekhawatiran siklus pertumbuhan ekonomi di negeri Matahari Terbit tersebut. Pemerintah Jepang dibawah pimpinan Shinzo Abe telah berjanji untuk menggunakan sebagian dari hasil kenaikan pajak untuk membuat pendidikan di Jepang menjadi lebih terjangkau.

Pasca kebijakan pembelian aset selama bertahun-tahun dinilai menemui kegagalan untuk meningkatkan inflasi ke target 2%, Bank of Japan melakukan pergeseran kebijakan pada 2016 lalu kepada kebijakan yang disebut Yield Curve Control, yang memandu suku bunga jangka pendek hingga ke kisaran minus 0.1% dan suku bunga jangka panjang di kisaran nol persen.

Selama ini para pelaku pasar menilai bahwa Bank of Japan terus melakukan perlambatan pembelian obligasi secara diam-diam.(WD)

Related posts