ADB: Perang Dagang AS-Cina Meredupkan Outlook Pertumbuhan Asia Tahun 2019

Pertumbuhan ekonomi Asia dapat tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya di tahun depan ketika perang perdagangan AS-Cina menimbulkan kerusakan tambahan pada ekonomi yang bergantung pada ekspor di kawasan itu, kata Bank Pembangunan Asia (ADB) pada hari Rabu.

Pengetatan likuiditas global juga dapat membebani aktivitas bisnis dengan mendorong kenaikan biaya pinjaman, sementara arus keluar modal juga merupakan risiko.

Lembaga yang berbasis di Manila itu mempertahankan estimasi pertumbuhan ekonomi 2018 untuk kawasan Asia sebesar 6.0 persen dalam pembaruan Outlook Pembangunan Asia-nya. Tapi memangkas perkiraan tahun depan menjadi 5.8 persen dari 5.9 persen.

“Resiko suram terhadap prospek semakin meningkat,” kata Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada, menunjukkan potensi dampak ketegangan perdagangan AS-China pada rantai pasokan regional dan risiko arus modal keluar mendadak jika Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih cepat.

Perkiraan pertumbuhan 5.8 persen ADB untuk 2019 akan menjadi yang paling lambat untuk kawasan ini, yang terdiri dari 45 negara di kawasan Asia-Pasifik – sejak mencatat pertumbuhan 4.9 persen pada tahun 2001.

Amerika Serikat dan Cina memberlakukan tarif baru atas barang satu sama lain pada hari Senin lalu karena ekonomi terbesar di dunia tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dari perselisihan perdagangan yang semakin sengit yang diperkirakan akan memukul pertumbuhan ekonomi global.

Related posts