Aktifitas Pabrik Asia Tumbuh Secara Moderat

Kuatnya permintaan dari Cina sebagai negara ekonomi terbesar Asia, menjadi faktor utama meningkatnya aktifitas sektor pabrik di kawasan Asia secara moderat di bulan Desember, sehingga menjadi sebuah tanda terbaru kenaikan produksi dari dampak awal pandemi Covid-19.

Namun demikian laju pertumbuhan sektor pabrik di Cina justru mencatat perlambatan dan langkah-langkah kebijakan pengendalian virus corona yang lebih ketat tetap diberlakukan atau tengah dipertimbangkan di seluruh dunia, sehingga hal ini sedikit mengaburkan prospek pertumbuhan dan membuat para pembuat kebijakan di kawasan Asia tetap berada di bawah tekanan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan program stimulus besar-besaran.

Caixin/Markit China Manufacturing PMI dirilis turun menjadi 53.0 di bulan Desember, yang merupakan level terendah dalam tiga bulan, namun masih tetap di atas level 50 yang memisahkan antara laju ekspansi dan kontraksi.

Angka ini masih lebih rendah dari pembacaan 54.9 di bulan November, mengalami penurunan yang sejalan dengan ukuran resmi dari aktifitas pabrik yang menunjukkan aktifitas di level tinggi secara moderat.

Permintaan yang kuat di Cina telah membantu peningkatan aktifitas sektor manufaktur di negara tetangga seperti Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, sehingga mempunyai harapan untuk prospek pemulihan di kawasan Asia.

Data PMI au Jibun yang dirilis oleh Bank of Japan mencatat kenaikan ke tingkat penyesuaian secara musiman di 50.0 pada bulan Desember dari 49.0 di bulan November sebelumnya, mengakhiri rekor penurunan selama 19 bulan terakhir, seiring stabilnya output untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.

Sektor industri China telah melakukan pemulihan yang mengesankan dari guncangan virus korona berkat ekspor yang sangat kuat, sehingga membantu mencerahkan prospek pemulihan Asia, akan tetapi kenaikan kasus infeksi virus telah memaksa sejumlah negara barat untuk memberlakukan kembali kebijakan kontrol yang ketat terhadap aktifitas ekonomi, yang mengaburkan prospek ekspor termasuk dari Cina.

Sementara itu Jepang dapat bergabunmg dengan negara lainnya dalam menerapkan kebijakan pembatasan yang lebih ketat seiring Perdana Menteri Yoshihide Suga yang mengisyaratkan untuk mengumumkan kondisi darurat di Tokyo dan tiga prefektur sekitarnya.(WD)

Related posts