Header Ads

Aktifitas Pabrik Cina Tumbuh Lebih Lambat

Meskipun dalam kecepatan yang lebih lambat namun laju aktifitas pabrik di Cina selama bulan Desember masih terus mencatat pertumbuhan, seiring permintaan ekspor yang terus memberikan dorongan bagi pemulihan ekonomi, meskipun biaya tenaga kerja dan transportasi yang tinggi menjadi faktor yang memperlambat.

National Bureau of Statistics (NBS) merilis data yang menunjukkan bahwa indeks manufaktur PMI berada di angka 51.9, lebih rendah dari perkiraan 52.1 dan pembacaan di bulan November di angka 52.1, sementara untuk data non-manufacturing PMI dirilis di angka 55.7, yang juga lebih rendah dari 56.4 pada bulan November, namun keduanya masih berada di atas angka 50 yang menunjukkan berlanjutnya ekspansi.

Ekonom NBS Zhao Qinghe mengatakan bahwa meskipun data PMI sedikit mengalami penurunan, namun secara keseluruhan industri manufaktur tetap mempertahankan momentum yang baik bagi laju pemulihan yang stabil.

Negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut masih melanjutkan pemulihannya dari kebijakan lockdown yang berdampak parah akibat pandemi virus corona di awal tahun ini, dan pemulihan ini mendapat dorongan dari permintaan pada hari raya Natal yang meningkatkan permintaan dari luar negeri untuk sejumlah barang-barang manufaktur serta ditambah meningkatnya aktifitas ekonomi domestik.

Hingga saat ini Cina masih menjadi satu-satunya negara yang berada di jalurnya untuk melaporkan laju pertumbuhan di tahun ini, dengan mampu mengendalikan pandemi di sebagian besar wilayah di negara tersebut.

Dalam hal ini para ekonom telah memperkirakan laju ekspansi ekonomi sekitar 2% untuk periode setahun penuh, yang mencatat laju terlemahnya dalam lebih dari tiga dekade terakhir, akan tetapi jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan negara ekonomi utama dunia lainnya.

Laju ekspor mengalami peningkatan seiring lonjakan permintaan terhadap peralatan medis dan perangkat elektronik untuk bekerja dari rumah di musim liburan dan menjelang akhir tahun, menyusul jumlah kasus infeksi Covid-19 yang terus meningkat secara terus menerus dalam skala global.

Akan tetapi cuaca dingin yang parah serta kondisi kekurangan listrik di sejumlah negara bagian pada bulan Desember, berpotensi membebani laju produksi selain kebijakan pembatasan produksi di sektor industri seperti baja dan batu bara selama musim dingin.

Wabah kasus COVID-19 telah membuat Beijing memberlakukan lockdown di daerah yang terkena dampak, yang pertama sejak wabah pada bulan Juni dan Juli, yang juga dinilai dapat mengurangi permintaan dikarenakan hal ini terjadi menjelang puncak musim perjalanan.

Sementara itu langkah-langkah pengendalian lonjakan infeksi virus corona yang lebih ketat juga diberlakukan di mayoritas negara mitra dagang Cina, termasuk AS yang mana hal ini berpotensi mengurangi permintaan industri dan menimbulkan beban bagi langkah pemulihan.

Meski begitu sejumlah investor masih tetap merasa optimis terhadap laju pemulihan yang terjadi saat ini, seperti yang disampaikan oleh Qian Wang selaku kepala ekonom Asia-Pasifik di Vanguard Group Inc kepada Bloomberg, bahwa hal yang terjadi saat ini masih merupakan level konsisten dengan laju pertumbuhan yang sangat solid dan ekonomi Cina nampaknya mampu bertahan cukup baik meskipun ada gelombang kedua dari sisi eksternal.(WD)

Related posts