Aktifitas Pabrik Di Jepang Mengalami Kontraksi Di Bulan Maret

Aktifitas sektor pabrik Jepang mengalami kontraksi di laju tercepatnya dalam satu dekade terakhir di bulan Maret, saat negara ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut tengah berjuang dengan penurunan yang parah dalam laju permintaan dari luar negeri dan domestik akibat pandemi.

Perlambatan manufaktur yang terjadi memberikan indikasi terbaru dari sektor bisnis dan ekonomi yang menderita akibat dampak dari penyebaran virus corona serta menyoroti tantangan yang akan dihadapi oleh para pembuat kebijakan.

PMI Manufaktur au Jibun Bank Japan dilaporkan jatuh ke level 44.8 yang disesuaikan secara musiman, dari sebelumnhya di 47.8 pada Februari lalu, sehingga tercatat sebagai level terendahnya sejak April 2009.

Survei PMI menunjukkan hasil dan pesanan baru turun ke tingkat yang tidak terlihat sejak April 2011, saat bencana gempa dan tsunami melanda Jepang, dengan adanya laporan dari sejumlah perusahaan yang menghentikan produksinya langsung.

Pesanan ekspor baru dilaporkan turun tajam di tengah laporan yang menunjukkan kesulitan ekonomi yang parah di negara mitra dagang utama di Cina dan bagian lainnya di kawasan Asia.

Para produsen melaporkan prospek output yang paling negatif selama 12 bulan ke depan setelah lembaga IHS Markit mulai melacak prospek masa depan pada Juli 2012.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Bank of Japan menyebutkan bahwa sektor pabrikan dalam skala besar telah berubah menjaid lebih pesimis untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir di periode tiga bulan pertama tahun ini, sehingga semakin menambah tekanan terhadap para pembuat kebijakan.

Selama kuartal terakhir di tahun lalu, ekonomi Jepang mengalami penyusutan di laju tercepatnya dalam lima setengah tahun terakhir, akibat tekanan yang ditimbulkan dari kenaikan pajak penjualan serta trade war antara AS dan Cina.(WD)

Related posts