Aktifitas Pabrik Jepang Menyusut Di Bulan Mei

Laju aktifitas pabrik di Jepang selama bulan Mei mengalami penyusutan dalam laju tercepatnya sejak Maret 2009, seiring para produsen yang terus berjuang secara luas untuk menghadapi tekanan terhadap laju permintaan yang terkena dampak pandemi virus corona.

Indeks au Jibun Bank Japan Manufacturing PMI yang disesuaikan secara musiman dilaporkan turun ke 38.4 dari sebelum di 41.9 pada bulan April, sehingga mencatat angka terendahnya sejak Maret 2009 silam.

Ekonom di IHS Markit, Joe Hayes mengatakan bahwa data hasil survei di bulan Mei mengungkapkan bahwa volume produksi turun di laju yang lebih cepat dari bulan April sebelumnya dan bukti dari survei menunjukkan bahwa itu adalah hasil dari penurunan permintaan, yang turun pada tingkat paling tajam sejak krisis keuangan global.

Hasil survei tersebut merujuk pada kontraksi tercepat dalam output pabrik, pesanan baru serta simpanan kerja sejak awal 2009, karena kebijakan lockdown yang diberlakukan pemerintah secara global menghentikan aktivitas ekonomi dan melukai sentimen konsumen.

Pandemi yang terjadi saat ini dinilai sangat menganggu bagi negara-negara yang bergantung pada sektor perdagangan seperti Jepang, yang telah tergelincir ke dalam resesi di kuartal pertama.

Pada pekan lalu pemerintah Jepang telah menghapus penetapan kondisi darurat serta telah menyetujui paket stimulus kedua sebesar $1.1 triliun, sehingga total menjadi sekitar 40% dari produk domestik bruto untuk menyelamatkan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19.

Namun demikian sebuah laporan dari sektor tenaga kerja setidaknya dinilai sedikit mengimbangi suramnya serangkaian data ekonomi lainnya, menyusul tingkat kehilangan pekerjaan yang mereda sejak April lalu, saat penurunan jumlah staf pekerja berada di laju paling tajam dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Terkait akan hal ini Joe Hayes mengatakan bahwa dislokasi akan tetap ada meskipun langkah untuk mengurangi kebijakan lockdown akan memberikan hal yang positif bagi kondisi ekonomi hingga pasar melihat adanya peningkatan permintaan yang berkelanjutan, di saat kondisi manufaktur yang cenderung tetap rapuh.(WD)

Related posts