Header Ads

Aktifitas Pabrik Korea Selatan Mengalami Pertumbuhan Di Bulan Desember

Aktifitas sektor pabrik Korea Selatan kembali ke laju pertumbuhannya pada bulan Desember lalu, sekaligus mengakhiri kontraksi dalam tujuh bulan berturut-turut, yang mana pertumbuhan ini dibantu oleh adanya peningkatan permintaan terutama dari pasar luar negeri.

Data Nikkei/Markit purchasing managers’ index untuk bulan Desember naik menjadi 50.1 dari 49.4 di bulan November. Laju output manufaktur untuk pertama kalinya diperluas dalam 14 bulan terakhir, seiring dukungan dari peluncuran produk baru serta peningkatan umum dalam kondisi tingkat permintaan.

Dalam survei tersebut dicantumkan pula indeks pesanan ekspor baru yang mengalami lonjakan menjadi 51.3 di bulan Desember dari 49.9 di bulan sebelumnya dan menjadi angka tertingginya sejak Juni tahun 2018 lalu. Panelis juga menyebutkan bahwa data penjualan mencatat hasil yang lebih besar ke sejumlah pasar di Asia seperti Jepang, Cina dan Vietnam.

Total pesanan baru, yang mengakhiri kontraksi 13 bulan, naik menjadi 50.7, karena permintaan dan penetrasi keseluruhan yang lebih kuat ke pasar luar negeri.

Salah seorang ekonom IHS Markit, Joe hayes mengatakan bahwa kemungkinan saat ini yang paling penting adalah laju pertumbuhan permintaan dari pasar luar negeri, yang mencatat peningkatan terkuatnya dalam beban kerja asing sejak periode pertengahan tahun 2018.

Hayes juga menyebutkan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan dalam ekspor, berpotensi menjadi kunci untuk memastikan bahwa sektor manufaktur Korea Selatan mampu untuk memberikan kontribusi yang positif terhadap output ekonomi negara tersebut secara keseluruhan.

Data ekspor Korea Selatan dalam 20 hari pertama di bulan Desember merosot 2.0%, menandai penurunan dalam laju paling lambat di periode setahun terakhir, seiring pemulihan laju permintaan dari Cina serta menstabilkan harga produk chip, sehingga menunjukkan sinyal bahwa penurunan selama setahun kemungkinan akan mendekati akhir.

Untuk sektor pekerjaan disebutkan bahwa indeks yang menunjukkan jumlah warga yang kehilangan pekerjaan mengalami kontraksi menjadi 47.5 di bulan Desember dari 49.4 di bulan sebelumnya, yang berarti bahwa tidak semua sub-indeks menunjukkan perbaikan secara keseluruhan.

Kontraksi ini mencatat laju tercapatnya sejak bulan Mei 2018, sekaligus memperpanjang penurunan beruntun dalam delapan bulan terakhir, meskipun hal ini hanya memberikan dampak yang kecil bagi efisiensi kerja karena simpanan pekerjaan juga berkurang selama bulan tersebut.

Dalam survei tersebut disampaikan juga bahwa laju sentimen bisnis untuk 12 bulan kedepan mendapat dukungan dari optimisme terhadap laju permintaan yang lebih besar terhadap produk-produk baru serta adanya harapan untuk tren di industri manufaktur global yang mengalami peningkatan.(WD)

Related posts