Aktifitas Sektor Bisnis Eurozone Mencatat Penurunan Tajam

Laju aktifitas ekonomi di kawasan Eurozone terhenti di bulan ini akibat dampak dari pandemi virus corona yang melanda mayoritas belahan dunia, sehingga memaksa pemerintah untuk menerapkan kebijakan lonckdown secara penuh sehingga perusahaan harus menutup aktifitas bisnis mereka.

IHS Markit’s Flash Composite Purchasing Managers ‘Index (PMI) di kawasan Euro, yang dinilai sebagai ukuran untuk kesehatan ekonomi, anjlok ke 13.5, sekaligus mencatat pembacaan terendah sejak survei ini dimulai pada pertengahan 1998 silan, dan jauh dibawah semua perkiraan dalam jajak pendapat Reuters.

Saat kebijakan lockdown diterapkan di sejumlah negara-negara anggota Uni Eropa, indeks mencatat penurunan terbesar dalam satu bulan terakhir di Maret lalu, sehingga anjlok 29.7 dibawah level 50 yang memisahkan level pertumbuhan dan kontraksi.

Chris Williamson selaku kepala ekonom bisnis di IHS Markit mengatakan bahwa selama bulan April terlihat kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ekonomi Eurozone di tengah langkah-langkah kebijakan lockdown serta ditambah penurunan laju permintaan global dan kurangnya staf dan input di sektor manufaktur.

Williamson juga mengatakan bahwa indeks PMI terlihat konsisten dengan ekonomi yang mengalami kontraksi sebesar 7.5% pada kuartal ini.

Untuk indeks bisnis baru turun hingga ke rekor terendah 11.6 dari 24.0, dan perusahaan menyelesaikan permintaan dalam jumlah yang luar biasa pada tingkat tercepatnya dalam sejarah sejak survei dimulai.

Bulan April ini juga menjadi bulan paling suram bagi pabrik-pabrik di kawasan tersebut seiring data PMI Manufaktur awal yang turun ke level terendah 33.6 dari 44.5 di bulan Maret.

Hal ini terlihat dari laju permintaan yang hampir tidak ada seiring banyaknya pabrik, sehingga pihak perusahaan memangkas tingkat pekerjaan secara tajam, menyusul sub-indeks ketenagakerjaan yang turun menjadi 35.7 dari 44.3, dan tercatat sebagai level terendah sejak April 2009 saat awal terjadinya krisis hutang di kawasan Euro.

Lebih lanjut Williamson mengatakan bahwa dalam menghadapi penurunan permintaan yang berkepanjangan, hilangnya pekerjaan yang meningkat dari rekor saat ini dan ketakutan baru yang menguat terhadap biaya ekonomi dalam mengendalikan pandemi virus.(WD)

Related posts