Aktifitas Sektor Jasa Cina Tumbuh Lebih Lambat

Sebuah survei swasta menunjukkan bahwa aktifitas sektor jasa di Cina mengalami peningkatan dalam laju yang lebih lambat di bulan Desember, seiring penanganan pandemi Covid-19 secara sporadis di negara tersebut yang memicu pemulihan kepercayaan konsumen serta berdampak pada pertumbuhan bisnis baru.

Caixin merilis service PMI untuk bulan Desember yang berada di angka 56.3, yang merupakan level terendahnya dalam tiga bulan, serta melambat dari pertumbuhan di 57.8 pada bulan November, meskipun, masih tetap di atas level 50 yang mencerminkan berlanjutnya ekspansi.

Hasil data ini mengikuti data dari Caixin yang dirilis hari Senin kemarin, Manufacturing PMI yang dirilis di angka 53, sementara di pekan sebelumnya Biro Statistik Nasional juga merilis PMI manufaktur dan PMI non-manufaktur, yang masing-masing menunjukkan 51.9 dan 55.7.

Laju pertumbuhan bisnis ekspor baru, yang kembali berekspansi di bulan November, sedikit mereda akibat dari melonjaknya kasus Covid-19 secara global yang mengurangi permintaan luar negeri.

Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa kenaikan tajam lebih lanjut di harga input telah menyebabkan pihak perusahaan menaikkan harga mereka dalam laju tercepatnya sejak Januari 2008 silam.

Pertumbuhan sektor jasa Cina melaju lebih lambat untuk mencatat pemulihan, dibandingkan sektor industri akibat dampak yang lebih rentan terhadap tindakan pengetatan jarak sosial, yang mana kebijakan pengetatan diberlakukan di Cina Utara, termasuk provinsi Beijing, Hebei dan Liaoning, saat lonjakan kasus virus muncul di wilayah tersebut.

Namun demikian hasil survei tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi bisnis selama 12 bulan ke depan tetap berada di level tertingginya sejak April 2011, menyusul peluncuran vaksin secara global yang meningkatkan harapan bahwa pandemi akan segera berakhir.

Ekonom senior di Caixin Insight Group, Wang Zhe mengatakan bahwa untuk kedepannya pihaknya telah memperkirakan laju pemulihan ekonomi pasca-epidemi akan berlanjut selama beberapa bulan, dan indikator makroekonomi akan berada di level yang lebih kuat selama enam bulan kedepan karena basis yang rendah selama paruh pertama tahun 2020 lalu.

Lebih lanjut Wang Zhe mengatakan bahwa sementara itu pihaknya perlu untuk memperhatikan tekanan yang meningkat terhadap biaya yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku dan dampak negatifnya terhadap lapangan kerja dan terutama penting untuk mencari cara keluar dari kebijakan stimulus yang diterapkan selama pandemi.(WD)

Related posts