Header Ads

Albayrak: Tidak Melihat Risiko Besar Pada Ekonomi Turki

Berat Albayrak - Krisis Turki

Turki tidak memperkirakan risiko besar untuk ekonomi atau sistem keuangannya, kementar Menteri Keuangan Berat Albayrak yang dikutip dari Reuters pada hari Rabu. Albayrak menggambarkan perbedaan sudut pandang yang berbeda antara Ankara dan investor global terhadap krisis mata uang Turki.

Albayrak yang merupakan menantu Presiden Tayyip Erdogan, mengkomentari pernyataan lembaga pemeringkat Moody’s untuk lebih waspada tentang prospek sektor perbankan Turki didukung oleh data yang menunjukkan kepercayaan ekonomi pada titik terendah dalam hampir satu dekade.

Lira telah kehilangan sekitar 40 persen nilainya tahun ini, menaikkan biaya bahan bakar dan makanan dan meningkatkan kekhawatiran tentang risiko bagi bank dan ekonomi yang lebih luas. Awalnya dipicu oleh kekhawatiran tentang pengaruh Erdogan pada bank sentral, krisis tambah memburuk karena perselisihan dengan Washington.

“Kami tidak melihat risiko besar tentang ekonomi atau sistem keuangan Turki,” kata Albayrak kepada wartawan pada penerbangannya kembali dari Paris awal pekan ini, menurut surat kabar Hurriyet. Dia mengutip “Rendahnya tingkat hutang publik dan rumah tangga bersih dan kekuatan sistem keuangan, sebagai alasan untuk percaya diri,” katanya.

Investor kurang optimis. Komentar Albayrak ini dapat memperkuat persepsi bahwa ada “penolakan internal dalam pemerintah Turki”, kata Sebastien Barbe dari Credit Agricole (PA:CAGR).

“Ini sama ketika Erdogan mengatakan bank sentral harus menurunkan suku bunga … Ini adalah jenis semangat yang sama dan menyulut gagasan di kalangan komunitas investor bahwa ada kesulitan dalam hal manajemen makro untuk Turki,” katanya.

Moody’s menurunkan peringkatnya pada 20 lembaga keuangan pada hari Selasa, dengan alasan meningkatnya risiko memburuknya pendanaan. Lingkungan operasional sekarang lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya, kata Moody’s.

Ini memangkas peringkat untuk beberapa bank terkemuka Turki, termasuk Isbank (IS:ISCTR) pemberi pinjaman terbesar berdasarkan jumlah asset.

“Tanda-tanda terbaru menunjukkan bahwa inflasi yang lebih tinggi, ditambah dengan pengetatan kondisi keuangan yang parah dapat memperlambat dalam pertumbuhan ekonomi,” kata Jason Tuvey dari Capital Economics dalam sebuah catatan kepada klien.

Sekitar $ 179 miliar hutang luar negeri Turki jatuh tempo pada tahun ini hingga Juli 2019, setara dengan hampir seperempat output ekonomi tahunannya, JPMorgan (NYSE:JPM) memperkirakan. Sebagian besar dari itu sekitar $ 146 miliar dimiliki oleh sektor swasta, terutama bank, kata Jason.

Selama bertahun-tahun perusahaan-perusahaan Turki telah meminjam dalam dollar dan euro, ditarik oleh suku bunga yang lebih rendah. Tetapi penurunan lira ini telah mendorong kenaikan biaya pinjaman tersebut dan meningkatkan kemungkinan membengkaknya hutang menjadi semakin buruk bagi kesehatan finansial bank.

Data resmi pada hari Rabu menunjukkan kepercayaan ekonomi turun bulan ini ke titik nadir sejak 2009.

Dalam komentar terpisah pada hari Rabu, Albayrak mengatakan bahwa pemerintah akan mengambil lebih banyak tanggung jawab dalam memerangi inflasi dan akan mendukung kebijakan moneter dengan langkah-langkah fiskal. Dia mengatakan bahwa tahun depan akan menjadi “tahun yang kuat” dalam pertempuran dengan inflasi.

Optimisme seperti itu telah gagal untuk menarik perhatian investor yang telah lebih fokus pada pengaruh Erdogan atas bank sentral. Presiden, “musuh suku bunga” seperti digambarkannya sendiri, ingin melihat biaya pinjaman diturunkan untuk menjaga kredit mengalir ke industri konstruksi.

Albayrak mengisyaratkan bahwa Turki ingin memperbaiki hubungannya dengan Uni Eropa dalam menghadapi langkah AS yang katanya mengancam ekonomi global. Perjalanannya ke Paris minggu ini, di mana dia bertemu menteri keuangan Perancis, tampaknya menjadi bagian dari upaya itu.

Albayrak mengatakan bahwa dia mungkin akan mengunjungi Inggris minggu depan dan Jerman seminggu setelahnya.

Related posts