Analis : BoJ Memiliki Amunisi Kebijakan Baru

Sejumlah analis menilai bahwa skema yang dibuat oleh Bank of Japan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan program stimulus besar-besarannya, berpotensi menjadi amunisi baru bagi bank sentral Jepang untuk merangsang laju pertumbuhan ekonominya, meskipun sebagian besar mengabaikan langkah skema tersebut.

Yang menjadi poin utama dari tinjauan pertemuan kebijakan bulan lalu, adalah terciptanya sejumlah langkah untuk menjauh dari eksperimen moneter radikal yang telah berusaha untuk meningkatkan laju inflasi melalui program pencetakan uang secara besar-besaran selama beberapa dekade, meskipun hal ini dinilai gagal oleh sejumlah kalangan.

Namun hal yang menjadi kurang menarik perhatian adalah langkah pembentukan skema bunga untuk mempromosikan pinjaman, yaitu sebuah program yang bersifat teknis dan bertujuan untuk memberikan kompensasi kepada pihak bank atas dampak yang terjadi akibat dari penerapan suku bunga negatif.

Untuk mengimbangi biaya suku bunga negatif maka skema tersebut mencantumkan keharusan membayar pihak bank dengan tingkat yang bervariasi guna mengambil uang tunai dari Bank of Japan, yang mana hal ini tergantung pada seberapa besar pinjaman yang mereka berikan.

Langkah ini memiliki tujuan utama untuk meyakinkan pasar bahwa dengan alat kebijakan yang tersedia dalam menangani dampak yang terjadi, maka pihak BoJ dapat mengambil tarif lebih dalam ke wilayah minus guna memerangi guncangan ekonomi yang terjadi saat ini.

Akan tetapi penerapan skema tersebut juga memberikan keleluasaan bagi bank sentral untuk menilai sektor mana yang akan dialihkan dananya, dan menjadikannya sebagai alat yang berpotensi guna membantu inisiatif seperti green investment.

Apa yang akan dilakukan oleh bank sentral Jepang ini sekaligus menggarisbawahi bagaimana mereka semakin mengarah lebih dekat kepada kebijakan fiskal untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang dilanda pandemi Covid-19, meskipun dengan kelangkaan alat kebijakan moneternya.

Sebuah sumber yang mengetahui hal ini mengatakan bahwa skema tersebut berpotensi menjadi amunisi kebijakan baru bagi BoJ, yang dapat digunakan untuk memberi insentif atau mempromosikan pinjaman dalam area pertumbuhan tertentu.

Sementara ini pihak Bank of Japan tidak berencana untuk menyebarkan pinjaman baru yang ditargetkan dalam waktu dekat, dan ide ini menjadi suatu “brainstorming” sebagai sesuatu di masa mendatang. Rencana tersebut juga menyoroti bagaimana kebijakan BOJ diarahkan untuk menyelaraskan dengan tujuan pemerintah, bahkan jika pemerintahan Perdana Menteri Yoshihide Suga tidak secara langsung membimbing bank sentral.

Sejalan dengan apa yang menjadi prioritas kebijakan dari PM Suga, maka wakil gubernur BoJ Masazumi Wakatabe mengatakan bahwa pihaknya harus meneliti dan mendiskusikan cara-cara untuk mempromosikan ekonomi Jepang yang “green and digitalised”.

Skema dari Bank of Japan ini dinilai unik karena merupakan sebuah struktur tiga lapis, dimana pinjaman yang memenuji syarat sebagai prioritas tinggi akan menerima bunga yang lebih tinggi, sehingga dengan demikian jika BoJ memperdalam suku bunga negatifnya maka yield bunga akan naik secara bersamaan.

Alat kebijakan ini memungkinkan BoJ untuk lebih efisien dalam memompa uang ke daerah yang membutuhkan, serta untuk menanggapi tekanan pemerintah di masa mendatang terkait tindakan yang lebih kuat dalam melindungi ekonomi Jepang.

Satoru Kado selaku analis di Mitsubishi UFJ Research and Consulting, mengatakan bahwa ini lebih baik daripada tidak sama sekali, namun dinilai masih tidak cukup untuk meningkatkan pinjaman, yang mana keuntungan bank tidak akan meningkat kecuali suku bunga jangka pendek naik lebih banyak dan ini merupakan sesuatu yang belum ditangani oleh pihak bank sentral yang kemungkinan tidak akan dapat melakukannya di masa mendatang.(WD)

Related posts