Header Ads

AS Terus Menuntut Tindakan Terhadap Nilai Tukar Yuan

Sejumlah ahli menilai bahwa tuntutan para negosiator AS terhadap Cina untuk tidak mendevaluasikan mata uang Yuan sebagai syarat kesepakatan perdagangan potensial, kemungkinan besar akan mendapatkan perlawanan dari Cina yang pada dasarnya menginginkan memiliki mata uang yang kuat.

Selama ini Presiden Donald Trump selalu mengeluhkan nilai tukar Yuan terhadap Dollar yang disebutkan bahwa mata uang Cina berpotensi menempatkan AS pada posisi yang tidak menguntungkan. Sejak pertengahan tahun lalu, mata uang Yuan menguat sekitar 1% terhadap Greenback dan pemerintahan Beijing mengatakan bahwa bank sentral Cina tengah berupaya untuk menguatkan mata uang Yuan.

Kepala Ekonomi dan Strategi Mizuho Bank Vishnu Varathan, mengatakan bahwa pihak gedung Putih belum berhenti untuk mencari jaminan tidak akan ada devaluasi, namun upaya AS untuk stabilitas Yuan dinilai berlebihan, sembari mengatakan bahwa pihak People’s Bank of China juga tengah mengupayakan stabilitas mata uangnya.

Dalam hal ini Tuan Huynh, selaku emerging markets chief investment officer dari Deutsche Bank Wealth Management, mengatakan bahwa negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut terus berupaya untuk membuka sektor keuangannya, serta sekaligus juga mendorong penggunaan Yuan secara lebih global, sehingga hal ini telah menjadi kepentingan dari Tiongkok untuk menjaga stabilitas mata uangnya seiring langkah pemerintahnya untuk membuka pasar domestik hingga meningkatkan investasi internasional mereka.

Terkait keluhan yang disampaikan pihak Washington tersebut, otoritas Cina melalui juru bicara Kemeterian Luar Negeri Cina, Geng Shuang menepis semuanya dengan mengatakan bahwa sebagai negara yang bertanggung jawab, Cina telah semakin menegaskan posisi mereka bahwa Beijing tidak terlibat dalam devaluasi kompetitif terhadap mata uangnya serta tidak akan menggunakan isu nilai tukar Yuan sebagai alat di tengah sengketa perdagangan yang terjadi saat ini. Lebih lanjut Shuang mengatakan bahwa pihaknya berharap AS dapat menghormati hukum pasar dan fakta obyektif serta dapat menahan diri dari upaya politisasi terhadap permasalahan nilai tukar.

Diketahui bahwa pemerintah Cina selalu menetapkan rentang perdagangan Yuan setiap harinya, artinya bahwa nilai tukar mata uang tersebut tidak mengambang secara bebas di pasar seperti US Dollar atau Euro. Akan tetapi tekanan beli dan jual di pasar mata uang, baik itu di Cina Daratan atau di pasar global, dinilai mempengaruhi keputusan penetapan range harian dari PBOC.

Jameel Ahmad, kepala strategi mata uang global dan riset pasar di broker valuta asing FXTM, mengatakan bahwa jika ketegangan perdagangan yang terjadi saat ini menemukan resolusi jangka panjangnya, maka daya tarik Dollar akan kurang menarik minat para investor, dan di satu sisi selera terhadap pasar negara berkembang dari para investor akan mengalami peningkatan.(WD)

Related posts