Header Ads

Bank of Japan Masih Mempertahankan Kebijakan Moneternya

Pada hari ini Bank of Japan memutuskan untuk tetap membiarkan kebijakan stimulusnya tetap berjalan seperti sediakala, namun di sisi lain malah memberikan gambaran suramnya ekonomi Jepang di tahun ini karena pemulihan dari dampak pandemi belum berjalan dalam laju yang cepat.

BoJ mempertahankan suku bunga jangka pendeknya di minus 0.15, serta target imbal hasil obligasi 10-year di kisaran nol sekaligus tidak merubah program pembelian asetnya. Sebelumnya sekitar 96% ekonom yang disurvei memperkirakan bahwa bank sentral Jepang tidak akan menambah stimulus mereka di pertemuan kebijakan hari ini.

Bank sentral merilis harga terbaru dan proyeksi pertumbuhan dengan perkiraan median, setelah melewati angka pinpoint pada bulan April, yang mana prediksi terbaru tersebut menunjukkan penurunan yang lebih dalam tahun ini, tetapi menyarankan kenaikan yang sedikit lebih cepat di tahun-tahun berikutnya.

Pada awal bulan ini sebuah sumber mengatakan bahwa para anggota dewan tidak melihat perlunya untuk bertindak lebih jauh saat ini karena pasar keuangan relatif kondusif dan sektor bisnis tidak menghadapi masalah pendanaan yang parah, dan data ekonomi terbaru mengindikasikan kemungkinan resesi akan mencapai titik terendahnya di kuartal terakhir tahun ini.

Meskipun Jepang telah menghadapi wabah COVID-19 yang jauh lebih mematikan daripada di Eropa dan AS, kenaikan baru-baru ini di Tokyo terus membebani sentimen dan inflasi telah turun di bawah nol, dan sektor pabrikan di Jepang sangat bergantung pada permintaan dari pasar saat pandemi berada di puncaknya.

Para anggota dewan kebijakan BoJ mengatakan bahwa pihaknya melihat penyusutan ekonomi hingga 4.7% dalam 12 bulan hingga Maret 2021, namun mereka melihat di bulan April bahwa terjadi kontraksi antara 3% hingga 5% dan proyeksi bank sentral menunjukkan kurangnya keyakinan terhadap prospek ke depan.

Bank sentral mengatakan bahwa pihaknya masih melihat pertumbuhan harga akan kembali di tahun fiskal berikutnya, namun tidak melihat laju inflasi naik mendekati target 25 untuk masa mendatang, yang memberikan sinyal bahwa Bank of Japan tidak mungkin menaikkan suku bunga sebelum masa jabatan Gubernur Haruhiko Kuroda berakhir di bulan April tahun 2023 mendatang.

BOJ sekarang telah menahan diri dari tindakan kebijakan lebih lanjut pada dua pertemuan reguler terbarunya, menyusul kesibukan aksi selama hari-hari awal pandemi ketika memperluas pembelian obligasi korporasi dan dana saham, berjanji untuk membeli utang pemerintah sebanyak yang diperlukan untuk tetap hasil rendah dan memperkenalkan dua program pinjaman untuk perusahaan yang kesulitan.

Di bulan ini Bloomberg mengatakan bahwa 90% ekonom yang disurvei mengatakan bahwa Bank of Japan telah melakukan cukup, bahkan lebih cukup sejauh ini untuk mendukung perekonomian, namun saat ini sekitar 63% tetap berdiri pada kebijakan sebelumnya hingga akhir tahun ini.

Pada bulan lalu bank sentral Jepang memperkirakan ukuran dua program pendanaan khusus untuk perusahaan hingga senilai 90 triliun Yen, yang mana jumlah pinjaman berdasarkan program adalah 22,6 triliun yen, hingga mencatat kenaikan pada laju tercepat dalam hampir tiga dekade bulan lalu, sebagian karena program-program tersebut.

Tingkat kebangkrutan naik 6,3% pada Juni dari tahun sebelumnya dan pengangguran meningkat menjadi 2.9% pada Mei, yang menunjukkan bahwa upaya bank sentral dan pemerintah membantu membatasi kerusakan akibat krisis.

Untuk saat ini, BOJ masih memiliki ruang untuk menyuntikkan lebih banyak uang ke pasar tanpa mengubah kebijakannya, yang mana laju pembelian dana yang diperdagangkan di bursa hanya di bawah laju tahunan 7 triliun yen bulan lalu, jauh dari batas tertinggi 12 triliun Yen.

Saat ini BoJ memiliki surat berharga komersial dengan nilai sebesar 4.3 triliun Yen dan obligasi korporasi sebesar 4.4 triliun Yen.(WD)

Related posts