Bank of Japan Memperluas Kebijakan Stimulus Moneter

Sebagai antisipasi untuk meredam dampak pandemi virus terhadap ekonomi Jepang, Bank of Japan telah memperluas stimulus moneter mereka di hari ini untuk meredakan ketegangan pendanaan perusahaan dan membiayai pengeluaran pemerintah yang besar, yang mana ini merupakan langkah dari bank sentral Jepang dalam dua bulan berturut-turut.

Dengan demikian langkah ini menempatkan Bank of Japan sejalan dengan bank sentral utama dunia lainnya, yang telah menerapkan jumlah dukungan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya di tengah krisis kesehatan yang tengah melanda dunia.

BoJ mendorong jumlah maksimum pembelian obligasi korporasi dan surat berharga yang dijanjikan, menjadi 20 triliun Yen ($186 milliar) dari sebelumnya sekitar 7 triliun Yen.

Selain itu bank sentral Jepang juga mengklarifikasi komitmen mereka untuk membeli obligasi pemerintah dalam jumlah yang tidak terbatas dengan membatalkan pedoman yang lebih longgar untuk melakukan pembelian sebesar 80 triliun Yen dalam skala tahunannya.

Dalam sebuah pernyataan setelah mengumumkan kebijakannya, Bank of Japang mengatakan bahwa pihaknya akan membeli jumlah obligasi pemerintah yng diperlukan tanpa menetapkan batas atas, sehingga imbal hasil obligasi tenor 10 tahun akan tetap berada di kisaran 0%.

Pada pertemuan di hari ini, Bank of Japan juga mempertahankan target suku bunga mereka tidak mengalami perubahan, yang mana hal ini telah diperkirakan oleh sejumlah kalangan analis sebelumnya.

Dibawah kebijakan yang dijuluki yield curve control, BoJ menargetkan suku bunga jangka pendeka di minus 0.1% dan imbal hasil obligasi tenor 10-tahun sekitar 0%, dan berjanji akan membeli obligasi pemerintah Jepang serta aset berisiko lainnya untuk memompa aliran dana secara agresif ke dalam perekonomian Jepang.

Biaya pendanaan perusahaan telah merangkak naik di Jepang meskipun pada bulab lalu Bank of Japan telah memutuskan untuk meningkatkan pembelian aset berisiko, termasuk obligasi korporasi dan utang komersial, serta membuat program pinjaman untuk membantu pendanaan perusahaan yang terkena dampak pandemi.

Pemerintah Jepang telah memperluas kebijakan penetapan kondisi darurat bulan ini, yang meminta warga untuk tinggal di rumah dan menutup aktifitas bisnis, yang semakin menambah kesengsaraan bagi ekonomi yang sudah berada di puncak resesi.

Untuk itu pemerintah telah meningkatkan paket pembelanjaan pada pekan lalu hingga menyentuh rekor di 1.1 triliun Yen, yang sebagian akan dibayarkan dengan menerbitkan lebih banyak obligasi, sehingga akan memberikan tekanan bagi sektor keuangan Jepang.(WD)

Related posts