Header Ads

Bank of Korea Harus Menciptakan Peluang Bagi Perekonomian

Kepala Bank Sentral Korea Selatan menyuarakan adanya lebih banyak perizinan untuk kebijakan moneter yang bertujuan untuk menciptakan penopang bagi perekonomian, memperdalam tren pemerataan pada kurva imbal hasil dengan meningkatkan tartuhan di pasar untuk penurunan suku bunga.

Lebih lanjut Lee Ju-yeol selaku Gubernur Bank of Korea, mengatakan bahwa arah kebijakan moeneter akan tetap akomodatif guna memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang stabil serta mempertimbangkan data yang masuk mengenai tingkat pertumbuhan, laju inflasi dan kondisi pasar keuangan.

Namun beliau menambahkan bahwa hal tersebut masih terlalu dini untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga di saat kondisi perekonomian saat ini, serta ditambah adanya kekhawatiran mengenai ketidakseimbangan kondisi keuangan yang berasal dari besarnya hutang di sektor rumah tangga. Akan tetapi pasar obligasi menanggapi komentar Lee sebagai suatu sinyal lebih lanjut tentang adanya penurunan suku bunga, yang mana hal ini memperpanjang reli pada pekan lalu setelah beliau berbicara mengenai peningkatan ruang manuver bagi kebijakan bank sentral guna mengikuti indikasi Federal Reserve mengenai jeda dalam kenaikan suku bunganya.

Dalam masa jabatan keduanya, Gubernur Bank Sentral Korea Selatan nampaknya akan tetap konsisten dalam retorika mengenai kebijakan moneter, dengan terfokus kepada pertumbuhan yang diimbangi oleh penurunan suku bunga, sementara ketidakseimbangan keuangan yang terjadi diikuti oleh dua kali kenaikan suku bunga sejak November 2017 lalu. Penurunan tajam yang terjadi dalam catatan pemerintah, menunjukkan pembelian obligasi secara besar-besaran yang hasilnya dapat bergerak ke arah yang lebih rendah serta ditambah dengan harapan yang lebih kuat terhadap keuntungan dalam investasi obligasi, seiring bank sentral yang tidak mampu melakukan inversi dalam yield curve.

Sejumlah organisasi internasional telah memberikan nasihat kepada Seoul untuk segera mengambil tindakan fiskal dan moneter yang lebih agresif untuk menghindari resesi menyusul meningkatnya risiko penurunan permintaan dari luar negeri yang semakin memperburuk ekonomi domestik yang memang berada dalam kondisi yang rapuh.

Produk domestik bruto Korea Selatan tumbuh di kisaran 2.7% di tingkat tahunan pada tahun 2018 lalu, yang mana ini merupakan pertumbuhan paling lambat dalam enam tahun terakhir. Bahkan prospeknya lebih suram untuk tahun ini, dengan proyeksi dari Bank of Korea dan OECD ditetapkan sebesar 2.6% dan bahkan Moody memperkirakan pertumbuhan di kisaran 2.1% untuk tahun ini.

Laju ekspor Korea Selatan mendapatkan imbas yang sangat besar dari adanya tanda-tanda perlambatan ekonomi global, terutama perlambatan yang terjadi terhadap mitra dagang terbesar mereka yaitu Cina. Pada bulan Februari lalu, ekspor Korea mengalami penurunan dalam tiga bulan berturut-turut, yang mana ini merupakan penurunan beruntun terpanjang sejak Juli 2016.

Laju ekspor semikonduktor yang menyumbang sekitar seperlima dari total pengiriman negara tersebut, mencatat penurunan tajam sebesar 24.8% di bulan lalu, seiring lemahnya permintaan serta penurunan harga produk tersebut yang lebih cepat dari perkiraan.(WD)

Related posts