Header Ads

Bank of Korea Mempertahankan Suku Bunga Tidak Berubah

Bank of Korea masih mempertahankan kebijakan suku bunganya tidak berubah, meskipun tekanan terhadap suku bunga yang lebih akomodatif semakin meningkatdi tengah kondisi ekonomi yang memburuk akibat melemahnya ekspor dan permintaan domestik yang menekan laju inflasi hingga ke level nol.

Seperti yang diharapkan secara luas, bank sentral Korea Selatan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 1.75%, yang mana ini merupakan kebijakan menahan suku bunga tidak berubah untuk yang keempat kalinya secara berturut-turut. pasca dikeluarkannya kebijakan tersebut, indeks Kospi hingga saat ini turun hingga 1.24%, sementara indeks Kosdaq bergerak 0.27% lebih rendah.

Kebijakan ini disinyalir mengikuti alur kebijakan dari Federal Reserve AS yang pada bulan lalu memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga tidak berubah di kisaran antara 2.25% dan 2.5%, seraya mengeluarkan isyarat tidak ada lagi peningkatan suku bunga di tahun ini, yang mengindikasikan nada yang lebih dovish dari sebelumnya di awal tahun ini.

Setidaknya langkah kebijakan Bank of Korea ini sesuai dengan konsensus pasar, menyusul 97% analis pasar obligasi memperkirakan dalam sebuah survei bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga stabil di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Meskipun masih ada tekanan terhadap bank sentral terhadap langkah-langkah kebijakan stimulus guna menopang perekonomian yang sedang lesu, namun Gubernur BoK, Lee Ju-yeol berulang kali menegaskan bahwa dirinya menolak kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat, seraya mengatakan bahwa langkah tersebut masih terlalu dini bagi bank sentral.

Sebelumnya pasar telah membuat taruhan yang agresif terhadap kemungkinan penurunan suku bunga, di tengah imbal hasil obligasi tenor tiga tahun pemerintah Korea Selatan di kisaran 1.679% pada akhir Maret lalu dan imbal hasil obligasi tenor lima tahun di 1.703%, yang masih berada di bawah kebijakan kurs dari pemerintah Korea Selatan.

Lemahnya harga obligasi sejak pekan lalu, diakibatkan oleh aksi ambil untung menjelang pertemuan kebijakan dari bank sentral. Baru-baru ini lembaga IMF telah mengeluarkan saran kepada Bank of Korea, untuk mengambil kebijakan yang lebih akomodatif guna memerangi banyak tantangan yang dihadapi oleh negara ekonomi terbesar keempat di Asia tersebut. IMF mengharapkan ekonomi Korea Selatan tumbuh 2.6% di tahun ini, lebih rendah dari pertumbuhan 2.7% di tahun lalu.

Selama ini ekonomi Korea Selatan sangat bergantung kepada perdagangan, dengan mengacu kepada laju pengiriman yang jatuh dalam empat bulan beruntun di bulan Maret menjadi $47.1 milliar, atau mencatat turun 8.2% dari tahun sebelumnya, di tengah berkurangnya penjualan produk semikonduktor serta perlambatan ekonomi Cina yang tajam selaku mitra dagang Korea Selatan.

Laju inflasi utama Korea Selatan pada bulan lalu mengalami perlambatan ke laju terlemahnya dalam hampir tiga tahun terakhir, menyusul melemahnya harga minyak dan permintaan domestik yang melemah terus menerus. Indeks harga konsumen Korea Selatan, dilaporkan naik 0.4% di bulan Maret dari tahun sebelumnya, berada di bawah kisaran 1.0% dalam tiga bulan berturut-turut.(WD)

Related posts