Bank of Korea Menaikkan Suku Bunga Acuan Sebesar 25 Basis Poin

Bank of Korea menutup kalender kebijakan moneternya di tahun ini dengan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir. Hal ini setidaknya mampu mengimbangi kegelisahan di pasar mengenai prospek ekonomi global, menjaga dari bubbling hutang akibat suku bunga rendah serta mampu memperkecil selisih dengan suku bunga The Fed.

Meskipun tidak dengan suara bulat, dua dari tujuh anggota menyuarakan untuk menahan laju kenaikan suku bunga terkait kecemasan terhadap laju permintaan domestik yang rapuh serta hutang sektor rumah tangga yang bisa mencapai 1,500 trilun Won ($1.3 triliun), kenaikan suku bunga tetap dilakukan dengan mengacu kepada siklus pengetatan moneter The Fed.

Komite Kebijakan Bank of Korea memutuskan bagi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 1.75% dari 1.50% sebelumnya di tahun lalu saat suku bunga mencapai terendahnya di 1.25%. Sementara itu dalam periode waktu yang sama, The Fed telah menaikkan suku bunganya sebanyak empat kali guna mencapai target Fed Fund rate di 2.0% – 2.25%. Banyak kalangan memperingatkan terjadinya potensi arus modal keluar, jika selisih melebar menjadi 100 basis poin, karena The Fed diperkirakan akan melanjutkan kenaikan suku bunga satu kali lagi untuk menutup kalender kebijakannya di tahun ini.

Gubernur Bank of Korea, Lee Ju-yeol dalam konferensi persnya mengatakan bahwa kebijakan suku bunga masih berada di bawah titik netral, dan satu kali kenaikan suku bunga tidak bisa diartikan bahwa kebijakan bank sentral tidak lagi akomodatif. Netralitas menjadi kata kunci bagi bank sentral di dunia untuk menentukan level netral bagi suku bunga acuan, menyusul pidato Jerome Powell, guna mengimbangi laju pengetatan kebijakan moneter AS.

Lebih jauh Lee menilai bahwa meskipun ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor eksternal bagi ekonomi Korea, namun beliau menganggap bahwa ekonomi akan tumbuh potensial di 2019 dan sekaligus membantah ekspektasi penurunan ekonomi tahun depan yang melanda pasar saat ini. Lee menyatakan bahwa pergerakan suku bunga berikutnya akan sangat tergantung kepada pertumbuhan harga dan kinerja ekonomi di negeri Ginseng tersebut.

Pada saat bersamaan pemerintah Seoul juga merilis data output pertambangan dan manufaktur yang naik 1.0% di bulan Oktober, berbalik dari penurunan 2.7% di bulan sebelumnya. Untuk penjualan ritel tercatat naik 0.25 di tingkat bulanan serta pertumbuhan 1.9% di sektor investasi modal.

Bank of Korea menjadwalkan pertemuan kebijakan suku bunga berikutnya pada 24 Januari 2019 mendatang. (WD)

Related posts