Header Ads

Bank of Korea Tetap Mempertahankan Suku Bunga Tidak Berubah

Bank sentral Korea Selatan mempertahankan suku bunga tidak berubah di hari ini, yang mana kebijakan ini memangkas harapan untuk penurunan, di tengah penyebaran virus corona yang semakin meluas di negara ekonomi terbesar keempat di Asia tersebut sehingga mengancam laju pertumbuhannya.

Dewan kebijakan Bank of Korea memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga dasar di 1.25%, yang mana keputusan ini sesuai dengan prediksi 10 dari 26 ekonom dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters.

Sebelumnya bank sentral Korea Selatan telah memangkas suku bunga mereka di bulan Juli dan Oktober pada tahun 2019 lalu. Gubernur BoK, Lee Ju-yeol akan mengadakan konferensi pers, pasca pengumuman prakiraan pertumbuhan yang direvisi serta prospek terhadap laju inflasi.

Pasca keputusan suku bunga tersebut, nilai tukar mata uang Won dilaporkan naik tajam terhadap Dollar, sementara imbal hasil dari kontrak obligasi KTBc1 untuk tenor 3 tahun dilaporkan jatuh akibat penurunan harga.

Salah seorang ekonom di DBS, Ma Tieying mengatakan bahwa perbedaan utama hari ini, jika dibandingkan dengan epidemi SARS dan MERS, adalah terlihat bahwa amunisi kebijakan relatif terbatas, yang mana beliau melihat bahwa setidaknya akan ada pelonggaran kebijakan satu kali di tahun ini.

Tieying juga menambahkan bahwa pihaknya berpikir bahwa Bank of Korea akan menanggapi guncangan pandemi virus corona kali ini, namun lebih secara reaktif dibandingkan secara pre-emptive.

Salah satu kekhawatiran potensial bagi pembuat kebijakan adalah bahwa risiko stimulus lebih lanjut akan memperburuk kondisi bubbling harga rumah di kawasan Seoul serta merusak stabilitas keuangan negara tersebut. Sebuah data yang dirilis pada Desember lalu menyebutkan bahwa harga rata-rata apartemen di Seoul mengalami lonjakan hampir 50% sejak Presiden Moon Jae-in menjabat pada Mei 2017 lalu.

Selain pelemahan mata uang Won Korea serta risiko arus modal keluar, berpotensi juga menjadi penghalang bagi Bank of Korea untuk menerapkan kebijakan pemangkasan suku bunga. Sejumlah risiko tersebut dikombinasikan dengan ketergantungan Korea Selatan terhadap perdagangan global yang saat ini masih mendapat gangguan.

Korea Selatan telah melihat lonjakan besar-besaran dalam kasus wabah virus dan saat ini memiliki lebih banyak kasus terinfeksi dibanding negara manapun di luar Cina, sehingga membuat para konsumen bertahan di rumah, perdagangan melemah serta meningkatkan ketidakpastian investor.

Pada awal pekan ini Presiden Moon Jae-in mengatakan perlunya persiapan anggaran tambahan guna meredam dampak wabah virus terhadap ekonominya.

Sejumlah broker dari BofA Securities, Capital Economics hingga Goldman Sachs melihat bahwa ekonomi Korea Selatan akan tumbuh dalam kecepatan yang lebih lambat dibandingkan laju pertumbuhan di tahun lalu sebesar 2.0%, yang merupakan laju pertumbuhan terburuk sejak krisis keuangan global.

Laju ekspor ke Cina dilaporkan menyusut sebesar 3.7% dalam 20 hari pertama di bulan ini dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang memberikan tanda lebih buruk untuk beberapa bulam kedepan.(WD)

Related posts