Bloomberg’s Survey : Bank Sentral Dunia Memiliki Ruang Untuk Suku Bunga Rendah

Sebuah survei terhadap ekonom yang dilakukan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa bank sentral di dunia memiliki ruang untuk melakukan kebijakan pemangkasan suku bunga lebih lanjut, sebelum mereka mendapatkan lebih banyak kerugian dibandingkan kebaikan, meskipun Federal Reserve sepertinya tidak mungkin untuk mendorong suku bunga acuannya dibawah nol persen.

Di tengah keterpurukan ekonomi dunia yang memaksa The Fed dan ECB untuk menurunkan biaya pinjaman, para pembuat kebijakan nampaknya siap untuk berbuat lebih banyak lagi, namun mereka sepertinya menyadari bahwa pada point tertentu mereka harus berhenti menggunakan alat kebijakan tersebut sebagai stimulus dikarenakan takut terhadap apa yang disebut sebagai reversal rate yaitu kondisi dimana biaya murah berubah menjadi kontraktif.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa The Fed dan Bank of England, yang keduanya mengisyaratkan sikap kontra terhadap suku bunga negatif, hanya akan mengurangi tolok ukur mereka menjadi nol dari kisaran 1.75% menjadi 2% dan 0.75% dari masing-masing bank sentral untuk saat ini.

Namun sebaliknya ECB harus dapat menurunkan suku bunga depositonya hingga ke level terendah 0.8% dari saat ini minus 0.5%, dan Bank of Japan dapat menurunkan suku bunga utamanya menjadi minus 0.35% dari minus 0.1%.

Disebutkan bahwa kebijakan moneter masih dapat mengalami pelonggaran lebih lanjut, yang mana ini merupakan berita baik dalam ekonomi global yang saat ini tengah dilanda ketegangan perdagangan AS-Cina dan juga sektor manufaktur global yang berada dalam kondisi resesi.

Namun demikian, mereka juga memberi sinyal bahwa bank sentral memiliki daya tembak yang lebih sedikit, yang dapat membuat para investor merasa khawatir dan sekaligus menggarisbawahi seruan kepada pemerintah untuk berbuat lebih banyak jika perlambatan saat ini masih berlangsung.

Federal Reserve telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak dua kali di tahun ini, dengan para pembuat kebijakan yang dipimpin oleh Jerome Powell, namun pada bulan lalu beliau mengatakan bahwa tingkat negatif tidak ada dalam daftar teratas alat kebijakan kami, karena hal tersebut dianggap ilegal di AS dan juga tidak jelas berapa banyak keuntungan ekonomi yang akan dihasilkan mengingat kemungkinan gangguan yang dapat ditimbulkannya terhadap sektor perbankan dan pasar mata uang.

Selain itu Bank of England juga bersikap berlawanan dengan suku bunga negatif, bahkan disaat risiko meningkat akibat potensi Hard Brexit. Gubernur Bank of England, Mark Carney telah mengesampingkan kebijakan suku bunga di bawah nol, dengan alasan bahwa hal tersebut dapat merusak margin, profitabilitas dan kapitalisasi bank.

Sementara itu Bank of Japan telah menunjukkan keinginan yang lebih besar untuk meningkatkan langkah-langkah pelonggarannya, dan selain itu Bank of Japan juga mewaspadai efek samping terhadap bank komersial dan pasar dari program pelonggaran yang masif.

Akan tetapi Bank for International Settlements dalam sebuah surveinya yang diterbitkan pada pekan lalu, mengatakan bahwa para gubernur bank sentral menyatakan bahwa tingkat suku bunga di bawah nol persen dan kebijakan pembelian aset telah membantu pertumbuhan dan laju inflasi dan lebih bersifat positif dibandingkan negatif.(WD)

Related posts