BoJ Akan Mempertahankan Kebijakan Moneter Stabil

Sebuah sumber terpercaya mengatakan kepada pihak Reuters mengatakan bahwa Bank of Japan akan mempertahankan kebijakan moneter stabil di hari Kamis mendatang, yang menandakan kesiapan mereka untuk memperpanjang durasi dari paket responsif krisis yang menjadi alat utama untuk menangani dampak ekonomi yang semakin dalam akibat krisis virus corona.

Sementara BOJ terlihat sedikit memangkas pertumbuhan dan perkiraan harga, banyak anggota dewan melihat tidak ada kebutuhan segera untuk memperluas stimulus karena ekonomi terbesar ketiga di dunia sedang menuju pemulihan sederhana.

Diharapkan bahwa bank sentral Jepang akan mempertahankan target pengendalian kurva imbal hasil di minus 0.1% untuk suku bunga jangka pendek dan kisaran 0% untuk imbal hasil jangka panjang terhadap tinjauan suku bunga dalam pertemuan dua hari yang akan berakhir di hari Kamis mendatang.

Hiroshi Ugai selaku kepala ekonom di JPMorgan mengatakan bahwa Bank of Japan mungkin merasa bahwa terlalu dini untuk berdebat secara mendalam untuk secara langsung menopang laju pertumbuhan ekonomi dan harga, dikarenakan mereka terfokus pada pengurangan tekanan pendanaan yang disebabkan oleh krisis Covid-19 saat ini.

Meskipun yield curve control (YCC) tetap menjadi kerangka kebijakan utama bagi Bank of Japan, namun pemangkasan target imbal hasil telah menjadi pilihan yang lebih kecil kemungkinannya seiring tekanan kuat pada margin bank di tingkat tahunan di tengah kondisi suku bunga yang sangat rendah.

Sehingga hal ini telah meningkatkan paket langkah-langkah yang diperkenalkan oleh pihak BoJ sejak Maret hingga Mei, yang mencakup pembelian hutang perusahaan secara agresif serta fasilitas pinjaman baru guna menyalurkan uang ke perusahaan kecil melalui lembaga keuangan.

Pejabat BOJ mengatakan paket itu akan berfungsi sebagai garis pertahanan pertama untuk melawan tekanan terus-menerus dari COVID-19, menunjukkan bahwa alat lain seperti penurunan suku bunga akan disimpan untuk guncangan yang lebih ekstrim seperti lonjakan yen yang tidak diinginkan.

Ekonomi Jepang saat ini tengah mengalami kemerosotan terbesar pasca perang dunia II di periode kuartal kedua lalu, dan analis memperkirakan tidak akan terjadi rebound, karena ketidakpastian terhadap tingkat dampak pandemi yang membebani konsumsi dan belanja modal.

Walaupun Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda telah berjanji untuk bertindak tanpa ragu dalam memberikan dukungan bagi perekonomian, namun pihak bank sentral dibiarkan kekurangan amunisi kebijakannya mengingat bahwa suku bunga sudah mendekati nol.

Sumber tersebut juga menyampaikan bahwa daloam tinjauan proyeksi ekonomi di periode triwulanan, yang dijadwalkan pada Kamis mendatang, bank sentral Jepang kemungkinan akan memperkirakan bahwa laju inflasi akan tetap berada di bawah target 2%, setidaknya hingga awal 2023 mendatang.(WD)

Related posts