Header Ads

BoJ : Jepang Terbiasa Dengan Upah Dan Laju Inflasi Yang Rendah

Periode deflasi yang berkepanjangan pada ekonomi Jepang, telah mengubah pandangan masyarakat Jepang menjadi terbiasa dengan rendahnya tingkat upah dan pertumbuhan harga yang lambat. Hal ini disampaikan oleh Bank of Japan seusai penilaian terhadap pasar yang berlangsung dua hari. pada kesempatan tersebut bank sentral memangkas perkiraan harga sekaligus mengambil sejumlah langkah bagi berkelanjutannya program stimulus besar-besaran, menyusul target waktu yang lebih lama dari yang diharapkan, untuk mencapai inflasi di level 2%.

Dalam laporan kuartal mengenai prospek ekonomi dan harga yang dirilis tadi pagi, BoJ menunjukkan beberapa faktor struktural yang mungkin menjadi latar belakang rendahnya laju inflasi. Selain itu banyaknya perusahaan industri yang mengatasi masalah kekurangan tenaga kerjanya dengan pola otomatisasi investasi, dan bukan melalui kenaikan upah, sehingga membuat sektor rumah tangga menjadi sensitif terhadap pertumbuhan harga. Namun dibalik itu semua BoJ juga menyampaikan bahwa konsumen belum bisa seluruhnya menerima perubahan kenaikan harga, dan hal inilah yang menyebabkan industri ritel, jasa, hotel dan restoran enggan untuk menaikkan harga.

Lebih lanjut bank sentral menyampaikan bahwa produktivitas perusahaan Jepang relatif rendah, namun ada ruang untuk meningkatkan produktivitas, terutama di sektor non-manufaktur secara signifikan. Tingkat produktivitas tenaga kerja di Jepang hanya 60 hingga 70 persen dari tingkat produktivitas pekerja AS. Untuk meningkatkan laju produktivitas serta tetap menjaga kenaikan harga yang lambat, banyak perusahaan yang menerima pekerja wanita dan pekerja usia senior dengan pertimbangan jumlah SDM yang lebih besar dengan kenaikan upah yang sama dibandingkan pekerja pria, sehingga mampu untuk menjaga perolehan upah secara keseluruhan. (WD)

Related posts