BoJ Memastikan Bank Jepang Memiliki Cukup Cadangan Dollar

Bank of Japan saat ini tengah berusaha untuk memastikan bahwa bank-bank di Jepang memiliki cukup cadangan dalam bentuk Dollar, guna mengatasi krisis likuiditas global yang mungkin memberikan kontribusi bagi lonjakan suku bunga pasar repor ke kisaran rekornya.

Untuk itu bank sentral menawarkan akses murah ke mata uang Dollar kepada bank-bank serta mendorong mereka untuk meminjam sebanyak yang mereka inginkan. Setidaknya hal ini menunjukkan keseriusan Bank of Japan dalam menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona terhadap sistem perbankan mereka.

Kekhawatiran ini terutama dikarenakan mereka takut berkurangnya likuiditas Dollar yang akan memburuk serta semakin besarnya tekanan yang ditimbulkan terhadap bank dan perusahaan.

Selain itu pejabat bank sentral beralasan bahwa langkah ini masih dapat menguntungkan ekonomi Jepang, meskipun para pemberi pinjaman hanya menggunakan dana untuk membuat keuntungan arbitrase di pasar lainnya.

Rie Nishihara selaku analis perbankan di JPMorgan Chase, mengatakan bahwa dalam ketersediaan pendanaan dalam bentuk mata uang Dollar untuk perbankan di Jepang, operasi pasokan Dollar dari bank sentral ini dapat membantu mengurangi risiko ketersediaan.

Kekhawatiran yang dialami oleh BoJ mengenai eksposur aset asing dari bank-bank di Jepang memang telah berlangsung lama, mengingat bahwa kebijakan suku bunga negatif yang diterapkan telah menimbulkan dorongan bagi aliran dana besar-besaran dari luar Jepang.

Seperti yang terjadi pada bulan Oktober lalu, yang mana ekspansi dari para pemberi pinjaman yang disebabkan oleh krisis keuangan tercatat jauh lebih besar dibanding di AS dan negara mitra mereka di Eropa, yang berarti bahwa BoJ perlu memperkuat basis pendanaan mata uang asing mereka.

Besarnya eksposur tersebut kemungkinan menjadi alasan bagi bank sentral Jepang dalam mencegah krisis dana yang berpotensi meningkat dengan cepat jika para pemberi pinjaman harus bersaing untuk mendapatkan akses ke mata uang Dollar.

Juru bicara MUFG Bank, Kana Nagamitsu mengatakan bahwa pemberi pinjaman terbesar di Jepang tersebut memiliki pasokan mata uang US Dollar dalam jumlah yang cukup.

Namun demikian lonjakan aktivitas di jalur swap BOJ memiliki efek knock-on di pasar lain, karena meminjam Dolar melalui pember pinjaman membutuhkan bank dan dealer sebagai tempat menyerahkan agunan yang biasanya dalam bentuk obligasi pemerintah Jepang.

Sehingga hal ini meningkatkan permintaan terhadap JGB yang saat ini telah langka akibat kepemilikan oleh BoJ dalam jumlah besar serta adanya program pembelian obligasi yang tengah berlangsung, dan ini memaksa bank sentral untuk melakukan serangkaian operasi repo mereka sendiri, yang mana  akibatnya adalah mereka meminjamkan obligasi ke pasar guna menjaga stabilitas sekaligus mengendalikan kembali tingkat pinjaman.

Semua ini bertentangan dengan yang terjadi di kawasan Eropa, dimana biaya untuk meminjam Dollar bagi para pemberi pinjaman di Eurozone telah berubah dari level tertekan ke rekor terendahnya, yang merupakan sebuah pertanda bahwa bank-bank di kawasan tersebut telah siap untuk meminjamkan Dollar.(WD)

Related posts