Header Ads

BoK Mempertahankan Suku Bunga Namun Konflik Perdagangan Memperkuat Sinyal Pemangkasan

Bank sentral Korea Selatan mempertahankan kebijakan moneter pada hari Jumat tetapi pemungutan suara dalam keputusan itu memberikan sinyal tegas bahwa bank bergeser ke pijakan yang dovish karena perang perdagangan AS-China yang semakin intensif, memaksa bank sentral untuk melakukan stimulus lebih banyak.

Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol mengakui ketidakpastian terhadap jalur pertumbuhan ekonomi karena ‘angin sakal’ perdagangan global tetapi masih menahan diri untuk tidak menawarkan panduan eksplisit tentang penurunan suku bunga di akan datang.

“Kami melihat situasi makroekonomi serta aspek stabilitas keuangan, dan setelah mempertimbangkan semua itu, ini bukan waktu yang tepat untuk merespons dengan penurunan suku bunga,” kata Lee pada konferensi pers di Seoul setelah keputusan.

BOK berada di bawah tekanan untuk bergabung dengan rekan-rekan regional dari Selandia Baru ke India dalam melonggarkan kebijakan untuk mengatasi angin sakal, tetapi sejauh ini menahan diri karena kekhawatiran tentang potensi pelemahan mata uang won, mata uang berkinerja terburuk di Asia tahun ini, dan resiko pelarian modal berikutnya.

Dalam keputusannya pada hari Jumat, tujuh anggota dewan memilih, 6-1 untuk mempertahankan suku bunga acuan dilevel 1.75%. Anggota dewan Cho Dong-chul, yang dikenal karena pandangan dovishnya tentang kebijakan, adalah satu-satunya menentang, memberikan suara untuk pemotongan suku bunga 25 basis poin.

Analis mengatakan bank sentral biasanya menggunakan perbedaan pendapat suara tersebut untuk memberi sinyal kepada pasar atas perubahan kebijakan dalam beberapa bulan mendatang.

Related posts