Header Ads

CBI : Perusahaan Manufaktur Di Inggris Menjadi Lebih Pesimis

Sebuah survei yang diterbikan pada pagi hari ini mengemukakan bahwa perusahaan-perusahaan manufaktur Inggris yang berskala kecil bersikap lebih pesimis karena sejak keputusan Brexit saat referendum 2016 lalu, mereka terus menghadapi ketidakpastian politik di dalam negeri serta ditambah dampak trade war sebagai risiko eksternal.

Confederation of British Industry yang melakukan survei tersebut mengatakan bahwa ukuran optimisme untuk produsen berskala kecil dan menengah mengalami penurunan ke -32 dalam tiga bulan yang berakhir di Oktober lalu, setelah sebelumnya mencatat penurunan hingga -28 dalam tiga bulan hingga Juli lalu.

Pesimisme ini diakibatkan oleh pesanan baru yang lemah, terutama pesanan dari pasar domestik, serta kurangnya antusiasme dari perusahaan-perusahaan tersebut untuk meningkatkan pengeluaran investasinya.

Alpesh Paleja yang saat ini menjabat sebagai kepala ekonom di Confederation of British Industry, mengatakan bahwa pihak perusahaan terjebak diantara pusaran ketidakpastian Brexit di Inggris, serta laju pertumbuhan ekonomi global yang mengalami kelesuan, sehingga memberikan tekanan terhadap output, pesanan dan perekrutan tenaga kerja, yang mana semua masalah ini tentunya menimbulkan beban bagi rencana investasi di seluruh bidang.

Laju perekonomian di Inggris menyusut di kuartal kedua tahun ini, namun secara luas diperkirakan mampu menunjukkan sejumlah pertumbuhan selama periode Juli hingga September, yang membantu ekonomi untuk menghindari resesi.

Selain permasalahan Brexit yang berlarut-larut, sektor manufaktur Inggris juga tengah menghadapi perlambatan ekonomi global yang disebabkan oleh ketegangan perdagangan antara AS dan Cina.

Survei dari CBI menyebutkan bahwa hampir dua pertiga dari 240 perusahaan yang menjadi responden, cenderung untuk membatasi pesanan ekspor menyusul kondisi politik dan ekonomi luar negeri.

Lebih jauh Paleja menyatakan bahwa partai politik manapun yang menang dalam pemilihan nasional pada 12 Desember mendatang di Inggris, akan tetap memastikan negara tersebut untuk meninggalkan Uni Eropa dengan kesepakatan transisi dan kemudian akan melanjutkan negosiasinya guna mencapai kesepakatan hubungan perdagangan jangka panjang yang baru dengan pihak Brussels.(WD)

Related posts