China Mencari UE Sebagai Sahabat Baru Di Tengah Gesekan Perdagangan Dengan AS

Perdana Menteri China Li Keqiang bertemu dengan para pemimpin Eropa timur dan tengah di Sofia, Bulgaria pada hari Sabtu kemarin untuk membuka ekonomi China ke dunia yang lebih luas. Keqiang juga bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel pada Senin dan minggu depan, di Beijing karena China akan menjadi tuan rumah KTT Uni Eropa-China.

“Membuka diri sebagai pendorong utama agenda reformasi China, jadi kami akan terus membuka lebih luas ke dunia, termasuk memperluas akses pasar bagi investor asing,” katanya. “Negara-negara dipersilakan untuk menyuarakan ekpresi ekonomi China untuk berbagi peluang pada pengembangan China.”

China telah menginvestasikan miliaran euro ke jalan, kereta api, pelabuhan dan proyek infrastruktur lainnya di negara-negara Eropa timur dan tengah.

Dalam hal perdagangan, China adalah sumber impor terbesar UE dan pasar ekspor terbesar kedua. Rata-rata perdagangan yang terjadi lebih dari $ 1.18 miliar sehari.

Berbicara kepada CNBC bulan lalu, Jyrki Katainen, wakil presiden Komisi Eropa, menegaskan bahwa China dan Uni Eropa mengambil langkah lebih lanjut untuk menandatangani perjanjian investasi.

“Kami memutuskan bahwa, dalam waktu beberapa minggu, UE dan China akan bertukar tawaran akses pasar pada perjanjian investasi,” kata Katainen di Beijing. Ini diharapkan berlangsung selama KTT minggu depan.

Komisi Eropa tidak segera tersedia untuk mengomentari subjek saat dihubungi oleh CNBC pada hari Senin.

Terlepas dari upaya nyata China dan Eropa, para analis skeptis tentang kemungkinan mereka mencapai kompromi yang cukup besar atas perdagangan.

“China dan Uni Eropa dapat mencapai kesepakatan kecil tetapi itu tidak menyelesaikan masalah mereka,” Daniel Lacalle, kepala ekonom dan petugas investasi di Tressis Gestion, mengatakan kepada CNBC melalui email.

Francesco Filia, CEO Fasanara Capital, menyoroti bahwa pandangan kebijakan yang berbeda di antara 28 negara anggota Uni Eropa akan mencegah blokade dalam membentuk koalisi dengan China melawan AS. “Saya pikir tidak mungkin bahwa (China dan UE) akan membentuk koalisi melawan AS pada tarif, “ katanya.

“Sementara China terbiasa menggunakan kebijakan yang tegas, Uni Eropa akan dapat dilanda perselisihan internal atas masalah ini sehingga agenda politik negara anggotanya terganggu. Taktik AS atas tarif mengasumsikan kemunduran politik semacam itu di luar Eropa … bahwa ketegangan perdagangan sepertinya akan bertahan lebih lama,” tambah Filia dalam email.

Meskipun Komisi Eropa memiliki kewenangan tersendiri untuk berurusan dengan kebijakan perdagangan dengan mitra asing. Namun harus mengikuti kesepakatan yang diberikan oleh negara-negara anggota. Ke-28 negara secara teratur memiliki pandangan berbeda tentang cara melanjutkan kebijakan perdagangan masing-masing.

Related posts