Header Ads

Dolar Tetap Lemah Setelah Rilis Data Utama AS

Ketika aset berisiko pulih pada perdagangan semalam, dolar AS sebagai aset safe haven kembali merosot, mengoreksi kenaikan yang ada pada permintaan safe-haven menyusul laporan Departemen Tenaga Kerja bahwa pertumbuhan pekerjaan semakin melambat pada bulan Agustus, mengancam pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19.

Pekerjaan melambat dan kehilangan pekerjaan permanen meningkat karena program untuk membantu bisnis membayar upah telah berakhir atau hampir berakhir. Ekonom memuji bantuan pemerintah yang membuat rebound tajam dalam aktivitas ekonomi setelah hampir terhenti menyusul penutupan bisnis pada pertengahan Maret.

Indeks dolar menguat ke level tertinggi dalam seminggu setelah laporan tersebut. Tetapi kenaikan itu terhapus pada Jumat sore karena indeks saham AS pulih walau sebelumnya mencapai level terendah satu bulan. 

Indeks dolar menjadi bergerak lebih rendah di Sabtu dinihari WIB, perdagangan berakhir turun 0,10% pada 92,752. Meskipun dolar tetap 1,1% lebih tinggi dari level terendah April 2018 di 91,74 pada hari Selasa, setelah bank sentral AS merombak kerangka kebijakannya minggu lalu, yang akan memungkinkannya untuk tetap mempertahankan suku bunga rendah untuk periode yang lebih lama. Ini menjadi negatif untuk dolar.

Tren turun dolar akan berlanjut setidaknya selama tiga bulan lagi karena prospek kebijakan moneter FED, menurut jajak pendapat analis Reuters menunjukkan pada hari Jumat.

Penurunan dolar pada awal minggu mendorong euro di atas level kunci $ 1,20 untuk pertama kalinya sejak 2018. Tetapi kenaikan itu dengan cepat memudar setelah kepala ekonom Bank Sentral Eropa Philip Lane mengatakan nilai tukar eurodolar “penting” untuk moneter kebijakan, menunjukkan kenaikan euro telah datang terlalu cepat dan kuat untuk keinginan ECB.

Related posts