Header Ads

Dollar Dan Didukung Minat Investor Terhadap Safe Haven

Seiring melonjaknya kasus virus corona dan terhentinya kemajuan terkait pembahasan stimulus fiskal AS, para investor mengalihkan minat mereka ke aset safe haven, sehingga hal ini memberikan dukungan bagi mata uang US Dollar hingga berpotensi mencatat perdagangan mingguan terbaik di bulan ini.

Ketika pembatasan baru untuk memerangi COVID-19 diperkenalkan di Eropa dan Inggris, greenback yang dikenal sebagai mata uang cadangan dunia melonjak ke level tertinggi dua minggu di 93.910 terhadap mata uang pesaingnya.

Sementara itu mata uang Yen Jepang yang juga dikenal sebagai salah satu mata uang safe haven, sempat menguat ke level tertingginya dalam dua pekan terakhir, yang dicapai pada sesi perdagangan Rabu kemarin.

Dikabarkan bahwa London telah memasuki penerapan kebijakan lockdown untuk meredam pandemi Covid-19 yang lebih ketat, setelah sebelumnya Paris telah memberlakukan jam malam sehingga membuat dua kota terbesar di Eropa tersebut berada di bawah kebijakan pembatasan yang diberlakukan oleh negara masing-masing.

Selain itu wilayah Midwest di AS juga tengah berjuang melawan rekor lonjakan dalam kasus infkesi baru virus corona, sehingga data ini menunjukkan laju pemulihan ekonomi AS telah kehilangan tenaga dan ditambah macetnya rencana stimulus dalam negosiasi tiga arah antara pihak Gedung Putih, Senat Partai Republik dan Demokrat dari House of Representative.

Susan Kilsby dan David Croy selaku analis di ANZ Bank menuliskan dalam catatannya bahwa pasar merasa takut akan terjadinya perlambatan aktifitas karena kasus infeksi virus baru terus menunjukkan peningkatan, selain itu kemerosotan terlihat jelas di mana-mana di seluruh kawasan Eropa, yang menjadi pukulan besar bagi momentum pemulihan dan memperkuat risiko terjadinya deflasi.

Selain permasalahan mengenai pandemi, kawasan Uni Eropa juga tengah dirundung risiko Hard Brexit, seiring Uni Eropa telah menempatkan tanggung jawab pada Inggris untuk berkompromi atau bersiap menghadapi gangguan perdagangan dalam waktu kurang dari 80 hari, yang mana Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan menanggapi serta mulai melakukan pendekatannya terhadap pembicaraan dengan pihak Uni Eropa pada hari ini waktu setempat.

Sedangkan mata uang Aussie telah jatuh ke dasar kisaran yang telah menahannya selama beberapa bulan setelah investor mempertimbangkan komentar dari gubernur Reserve Bank of Australia yang menyebutkan penurunan suku bunga dan pembelian obligasi sebagai salah satu opsi kebijakan telah meningkatkan kemungkinan berlanjutnya kebijakan pelonggaran moneter.

Untuk mata uang Yuan sementara ini dinilai mampu bertahan setelah PBOC sedikit menahan dukungannya dengan memangkas biaya shorting mata uang, sehingga Stephen Innes yang menjabat sebagai ahli strategi di perusahaan roker AXI menilai bahwa Yuan telah memasuki bullish chanel dan pasangan USDCNY telah berada dalam fase downtrend secara maksimal.(WD)

Related posts