Header Ads

Dollar Menguat Seiring Rebound Harga Minyak AS

Pergerakan sejumlah mata uang utama dunia pada hari ini terpantau mixed, seperti yang terlihat dari nilai tukar US Dollar serta mata uang Aussie yang menguat dengan sejumlah faktor yang mempengaruhinya.

Kembalinya harga minyak mentah AS ke wilayah positif dari kejatuhannya ke level terdalam sepanjang sejarah, mampu memberikan dukungan bagi Greenback untuk memperluas kenaikannya.

Sementara mata uang Aussie terpantau melonjak menyusul data penjualan ritel Asutralia yang menguat mencapai rekornya. Sedangkan mata uang safe haven Yen Jepang masih diuntungkan dengan kekhawatiran investor setelah harga minyak jatuh ke wilayah negatifnya pada hari Senin lalu.

Kenaikan nilai tukar Greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia pesaingnya, terutama mata uang komoditi, masih berlangsung hingga saat memasuki sesi perdagangan waktu Eropa siang hari ini.

Stabilisasi harga minyak pada nyatanya hanya mampu memberikan sedikit dukungan bagi mata uang Rubel Rusia, yang sensisif terhadap harga minyak serta memberikan ruang kenaikan bagi mata uang Krone Norwegian meskipun sedikit, dan hanya Dollar Kanada yang hingga saat ini masih berjuang untuk mendapatkan traksi.

Dalam pekan ini nilai tukar US Dollar telah menguat hingga 0.6% terhadap mata uang utama dunia lainnya dan saat ini berada di dekat level tertingginya dalam dua pekan terakhir terhadap Krone, Rubel dan Loonie sebagai mata uang komoditas.

Poundsterling sendiri hingga saat ini masih bertahan di dekat level terendahnya dalam dua pekan ini setelah adanya penilaian yang suram mengenai prospek pemulihan dari kepala ekonom Bank of England.

Pemulihan harga minyak mentah AS yang mampu keluar dari kisaran negatifnya, namun masih sekitar 80% dibawah level puncaknya di bulan Januari, seiring konsumsi energi yang jatuh akibat lockdown yang dilakukan sebagai upaya meredam pandemi Covid-19.

Kejatuhan harga minyak mentah AS telah membuat minat pasar terhadap aset risiko semakin memburuk dan telah menghentikan rebound di pasar saham karena para investor bersiap terhadap laju pemulihan ekonomi global yang akan memakan waktu lebih lama dan berjalan lebih lambat.

Pada hari Selasa kemarin Gubernur bank sentral Australia, Philip Lowe, mengatakan bahwa negara itu kemungkinan akan mengalami kontraksi terbesar dalam output sejak 1930-an, dan bahwa pengembalian di sektor bisnis yang lebih cepat sepertinya tidak bisa diharapkan.

Terkait akan hal ini analis Commonwealth Bank of Australia FX, Joe Capurso mengatakan bahwa turunnya harga komoditas dan ekuitas adalah sinyal yang ditunjukkan oleh para pelaku pasar bahwa ekonomi global akan tetap lemah untuk beberapa waktu kedepan, bahkan setelah kebijakan lockdown dikurangi.(WD)

Related posts