Dollar Stabil Di Tengah Meningkatnya Tensi AS-Cina

Seiring meningkatnya tensi perdebatan antara AS dan Cina terkait asal muasal virus Covid-19, pergerakan indeks Dollar mampu memanfaatkan sejumlah minat beli di sesi awal perdagangan waktu Eropa siang hari ini.

Perdebatan terbaru dari para pejabat AS untuk menyalahkan Cina atas wabah pandemi Covid-19 datang dari Sekretaris Negara Mike Pompeo, yang menyatakan ada sejumlah besar bukti yang menyebutkan bahwa virus tersebut muncul dari laboratorium pemerintah Cina di kota Wuhan.

Pernyataan ini datang menyusul ancaman dari Presiden Donald Trump di hari Jumat lalu, mengenai perselisihan dagang antara kedua negara, yang mana Washington menekan pihak Beijing terkait kerusakan ekonomi secara global yang disebabkan oleh penyebaran wabah virus corona, yang dinilai tidak mampu dicegah oleh pemerintahan Beijing.

Sekitar 30 juta orang Amerika telah mengajukan klaim pengangguran dalam enam minggu terakhir, sementara itu Cina telah melaporkan Produk Domestik Bruto di periode triwulanan yang mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak pencatatan tersebut dimulai.

Dalam sebuah catatannya Nordea mengatakan bahwa amunisi Trump untuk menarik suara dari para pekerja, bisa menjadi pukulan bagi Cina yang terpapar dalam sebuah kombinasi dengan isolasionisme baru, yang mana pandemi virus kemungkinan akan menawarkan kesempatan bagi Trump untuk mengungkap bahwa kesepakatan perdagangan antar keduanya akan digantikan dengan sikap yang lebih agresif terhadap Cina.

Komentar dari Nordea tersebut bertentangan dengan tindakan terbaru dari pemerintah AS dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah telah menangguhkan untuk memungut tarif impor terhadap sejumlah produk Cina sejak terjadinya pandemi, sebagai upaya untuk menghindari terjadinya kenaikan harga bagi konsumen AS yang telah mengalami tekanan.

Kekhawatiran bahwa pertengkaran ini akan berubah menjadi perang dagang berikutnya, yang muncul hanya beberapa bulan setelah putaran pertama dari perjanjian perdagangan antara kedua kekuatan ekonomi dunia tersebut ditandatangani untuk mengakhiri konflik yang merusak ekonomi dan perdagangan global, sehingga hal ini merusak selera pasar terhadap aset berisiko.

USD bergerak stabil terhadap sejumlah mata uang utama dunia, namun sedikit mengalami tekanan dari mata uang safe haven seperti Yen Jepang.(WD)

Related posts