Dollar Terpukul Oleh Buruknya Data Ekonomi AS

Mata uang US Dollar masih bergerak di kisaran rendahnya terhadap mata uang utama pesaingnya saat sesi perdagangan waktu Asia, seiring para pedagang bersiap untuk memantau data pesanan barang tahan lama AS yang diperkirakan akan menunjukkan perlamabatan serta menantikan pidato utama dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Meredanya kekhawatiran mengenai kebuntuan hubungan diplomatik antara AS-Cina telah mendorong mata uang Yuan Cina untuk bergerak ke level tertingginya dalam tujuh bulan terhadap Dollar setelah para pejabat perdagangan dari dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut memberikan penegasan mereka terhadap komitmen kesepakatan perdagangan Fase pertama.

Greenback telah mengalami pukulan sejak memasuki sesi perdagangan waktu AS semalam setelah data kepercayaan konsumen AS dilaporkan turun ke level terendahnya dalam lebih dari enam tahun akibat kekhawatiran mengenai hilangnya pekerjaan yang disebabkan oleh pandemi virus gelombang kedua.

Para pedagang di pasar mata uang global tengah menantikan pidato Powell pada pertemuan tahunan Federal Reserve di Jackson Hole pada hari Kamis besok, guna menentukan langkah apa yang akan diambil oleh The Fed untuk melindungi laju pemulihan ekonomi AS yang berada dalam kondisi rapuh saat ini.

Terkait akan hal tersebut Minori Uchida selaku kepala riset pasar global di MUFG Bank di Tokyo, mengatakan bahwa pihaknya berharap Powell akan menggunakan panduan kedepan untuk mengirim pesan dovish mengenai suku bunga yang akan tetap berada di level rendah dalam waktu yang lama, yang akan mengakibatkan nilai tukar US Dollar akan tetap melemah, sehinga bisa disebutkan bahwa pasar akan melihat koreksi panjang dari kekuatan nilai Dollar yang berlebihan.

Pada hari ini akan dirilis data ekonomi yang akan menunjukkan bahwa pertumbuhan pesanan barang tahan lama AS akan mengalami perlambatan di bulan Juli, menyusul buruknya laporan kepercayaan konsumen AS di bulan Agustus yang turun hingga ke level terendah sejak Mei 2014, yang sekaligus juga akan menyoroti kekhawatiran para pembuat kebijakan mengenai kondisi ekonomi AS.(WD)

Related posts