ECB Kemungkinan Meluncurkan Stimulus DIbandingkan Memangkas Suku Bunga

Menjelang Pengumuman kebijakan ECB yang akan dirilis pada malam nanti, sejumlah kalangan menilai bahwa ECB akan kembali memberikan pinjaman baru yang sangat murah bagi sektor perbankan Eropa, agar mampu memberikan pinjaman dalam jumlah yang lebih banyak kepada perusahaan berskala kecil dan menengah.

Mereka menyebut ini sebagai sebuah tantangan besar pertama bagi Christine Lagarde yang menjabat sebagai Presiden ECB sejak November lalu dan menyebut dirinya sebagai “burung hantu bijaksana” dalam mengambil kebijakan moneternya.

Diperkirakan bahwa bank sentral Eropa akan mengungkap langkah stimulus baru untuk mendorong kebijakan mendekati batas-batasnya dalam membantu ekonomi Eurozone dari guncangan pandemi virus corona.

Kondisi jutaan warga Italia yang mengalami lockdown dalam skala nasionalnya, anjloknya pasar serta sektor korporasi yang berjuang dengan masalah supply chain yang terganggu serta rapuhnya perekonomian Eropa telah menumpuk tekanan semakin besar terhadap ECB untuk menggunakan sisa amunisi kebijakannya.

Kebijakan pemangkasan suku bunga darurat yang diterapkan oleh Federal Reserve AS dan Bank of England, memberikan sinyal desakan untuk segera meredakan kegelisahan investor serta kepanikan di pasar yang dapat memicu resesi serta guncangan di kawasan Euro akibat epidemi virus asal Cina.

Disinyalir bahwa para pemegang kebijakan bank snetral cenderung untuk memperdebatkan kebijakan penurunan suku bunga, meskipun langkah tersebut sepertinya masih jauh dari kata pasti.

Saat ini pasar mengharapkan pemangkasan hingga 10 basis poin terhadap rekor terendahnya di minus 0.5%, meskipun banyak pembuat kebijakan yang mengatakan bahwa pemangkasan lebih lanjut bisa menjadi kontraproduktif karena akan merusak margin bank hingga ke titik yang akan mengacaukan sektor pinjaman.

Akan tetapi di sisi lain tindakan penurunan suku bunga di bank sentral akan berisiko memicu terjadinya turbulensi pasar, sekaligus sedikit mengesampingkan tujuan paket stimulus, yang berlawanan dengan ekspektasi pasar.

Hal ini juga akan mendorong Euro ke kisaran yang lebih tinggi, sehingga pastinya akan memberikan tekanan terhadap laju inflasi yang lebih rendah, sehingga prospek menjadi tidak nyaman akibat pertumbuhan harga yang lemah.

Opsi lainnya adalah ECB dapat membahas langkah untuk meningkatkan pembelian aset mereka guna menjaga biaya pinjaman korporasi tetap terkendali sekaligus mengurangi tekanan terhadap selisih obligasi negara, yang saat ini telah semakin melebar akibat imbas larinya para investor dari pasar yang lebih lemah seperti Italia, Spanyol dan Portugal.

Florian Hense selaku ekonom di Berenberg mengatakan bahwa tidak ada satupun dari langkah moneter ini yang mampu menghentikan penyebaran virus, akan tetapi kebijakan pemangkasan bisa menjadi yang terbaik untuk mencegah kerusakan ekonomi yang lebih parah di paruh kedua mendatang.

Namun Lagarde menekankan bahwa semua ini tergantung dari pemerintah Eropa untuk bereaksi secara lebih efisien dan efektif terhadap epidemi ini, serta mereka harus menggunakan kelonggaran dalam anggaran mereka, yang akan menjadi senjata yang lebih kuat dari apapun yang ditawarkan oleh ECB.

Lagarde telah mengatakan kepada para pemimpin Eropa bahwa akan ada bencana setara dengan krisis keuangan global jika tidak ada tindakan apapun dari pemerintah.

Dengan tingkat yang sangat rendah, ECB sudah mendekati apa yang disebut tingkat pembalikan di mana pemotongan lebih lanjut lebih banyak merugikan daripada kebaikan, dan menciptakan bubbling perumahan yang dinilai dapat menabur benih krisis di masa depan.

Beberapa ekonom memperkirakan inflasi akan turun ke nol pada musim semi ini jika harga minyak mentah tetap pada level saat ini, sehingga semakin meningkatkan kekhawatiran terjadinya “deflation spiral” yang membawa kerusakan terhadap ekonomi di kawasan.(WD)

Related posts