Ekonomi Australia Berkembang Lebih Cepat

Australian Bureau of Statistics (ABS) merilis data yang menunjukkan bahwa pada kuartal terakhir tahun lalu ekonomi Australia berkembang di laju yang jauh lebih cepat dari perkiraan, sehingga memberikan tanda-tanda pijakan yang kuat di awal tahun 2021 seiring dukungan stimulus moneter dan fiskal dalam skala besar.

Ekonomi Australia tumbuh 3.1% dalam tiga bulan hingga Desember, yang mana angka ini lebih tinggi dari perkiraan kenaikan sebesar 2.5%, menyusul kenaikan 3.4% yang direvisi naik pada periode kuartal ketiga sebelumnya.

Terlepas dari pertumbuhan kuartalan terbaik secara berturut-turut, tingkat produksi tahunan justru masih mencatat penyusutan 1.1%, yang menggarisbawahi gejolak yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona dan sekaligus menyuarakan untuk adanya dukungan kebijakan yang masih diperlukan untuk ekonomi Australia senilai A$ 2 triliun ($ 1.57 triliun).

Kepala ekonom di CommSec Craig James mengatakan bahwa kurva pemulihan berbentuk V dapat terlihat di laju pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, belanja ritel serta pasar perumahan, sehingga beliau memperkirakan bahwa laju ekonomi Australia akan mengalami rebound sebesar 4.2% di tahun 2021 ini.

Sementara itu data terkait pengeluaran kartu kredit dan debit oleh bank-bank besar serta angka resmi penjualan ritel, pekerjaan dan aktifitas bangunan telah menunjukkan awal yang kuat di tahun ini.

Terkait akan hal tersebut Marcel Thieliant selaku ekonom di Capital Economics mengharapkan bahwa laju pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 4.5% di tahun ini mampu menyiratkan bahwa memungkinkan penurunan migrasi bersih akibat penutupan perbatasan, sehingga ekonomitidak akan mengalami penurunan output secara permanen yang diakibatkan oleh pandemi.

Ekonomi Australia telah berkinerja lebih baik daripada negara-negara kaya di dunia berkat transmisi komunitas COVID-19 yang sangat rendah bersama dengan stimulus fiskal dan moneter yang masif dan tepat waktu, yang mana output ekonominya turun 2.5% di tahun 2020 lalu, yang jauh lebih kecil dari penurunan 10% di Britanian Raya, 9% di Italia, 5% di Kanada serta lebih dari 3% di AS.

Bendahara Negara Josh Frydenberg mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa rencana pemulihan ekonomi berjalan dengan baik, yang dibuktikan dengan rekening nasional di hari ini, namun ada sejumlah tantangan di depan bagi Australia di tahun ini.

Guna meredam guncangan ekonomi dari kebijakan lockdown akibat pandemi, pihak Reserve Bank of Australia telah memangkas suku bunga hingga tiga kali di tahun lalu ke rekor terendahnya di 0.1% serta meluncurkan program pelonggaran kuantitatif yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain itu pemerintah Australia juga telah mengumumkan skema subsidi upah untuk mempertahankan lapangan pekerjaan, di saat bank menunda pembayaran pinjaman rumah serta memotong suku bunga pinjaman untuk membantu meningkatkan pertumbuhan kredit.

Laporan yang dirilis pada hari ini menyebutkan bahwa dalam laju perekonomian hampir tidak ada inflasi domestik yang didorong oleh kenaikan harga terbesar yang berasal dari ekspor komoditas dan RBA telah berulang kali mengatakan bahwa tingkat pengangguran harus turun menjadi sekitar 4% dari kisaran 6% lebih untuk saat ini, sebagai upaya untuk membantu mendorong pertumbuhan upah di atas 3% dan mencapai target inflasi kembali ke kisaran target 2-3%.(WD)

Related posts