Ekonomi Australia Menyusut Tajam Di Kuartal Kedua

Ekonomi Australia mengalami kemerosotan ke rekor terdalam di kuartal kedua seiring kebijakan pembatasan terhadap pandemi virus corona yang melumpuhkan aktifitas sektor bisnis, dan sementara ini gelombang kedua infeksi virus telah mengancam untuk menghentikan laju pemulihan, sehingga menambah tekanan pada pemerintah untuk menjaga kucuran fiskal tetap terbuka.

Biro Statistik Australia merilis data pada hari ini yang menunjukkan bahwa ekonomi negara tersebut mengalami penyusutan sebesar 7% sebesar A$ 2triliun ($1.47 triliun), dalam periode tiga bulan terhitung hingga akhir Juni lalu, dari penurunan sebelumnya sebesar 0.3% pada kuartal sebelumnya.

Dengan menyusutnya ekonomi Australia menandakan bahwa negara ini telah bergabung dengan AS, Jepang, Inggris dan Jerman yang juga mengalami penyusutan ekonomi dalam dua kuartal secara berturut-turut.

Saat wawancara dengan para wartawan di Canberra, Treasurer Australia Josh Frydenberg mengatakan bahwa krisis ini tidak seperti yang terjadi di negara lainnya, yang mana catatan nasional telah mengkonfirmasi dampak Covid-19 yang menghancurkan terhadap ekonomi Australia dan hal ini telah mengakhiri rekor pertumbuhan ekonomi negara tersebut selama 28 tahun secara berturut-turut.

Frydenberg menambahkan bahwa dalam sinyal yang jelas terkait stimulus fiskal akan terus mengalir dan ini merupakan komitmen mereka kepada warga Australia untuk tetap memberikan dukungan untuk bersama-sama melalui krisis ini dengan segala upaya.

Kontraksi yang terjadi saat ini mencatat penurunan lebih dalam dari perkiraan median di angka 5.9%, akibat negara bagian Victoria menjadi wilayah terpadat kedua di Australia yang mengalami isolasi untuk mengekang penyebaran virus corona yang mana perbatasan internasional juga ditutup.

Lebih lanjut Frydenberg mengatakan bahwa kebijakan lockdown di negara bagian Victoria akan sangat membebani laju PDB pada kuartal September mendatang, seiring lebih dari satu juta orang telah kehilangan pekerjaan mereka sejak bulan Maret lalu, saat Australia menutup seluruh sektor ekonomi, sehingga memukul laju permintaan dan investasi sektor swasta.

Meskipun data yang dirilis hari ini berada dalam kondisi suram yang menggarisbawahi perlunya lebih banyak stimulus karena laju pemulihan diperkirakan tidak merata dan bergelombang, meskipun pada dasarnya pemerintah Australia telah meningkatkan stimulus lebih dari A$ 300 milliar.

Kepala ekonom di BIS Oxford Economics Sarah Hunter mengatakan bahwa untuk kedepannya jelas bahwa jalan kembali dari resesi Covid-19 akan berjalan berlarut-larut dan pertumbuhan pada kuartal September ini akan terbebani oleh kebijakan lockdown di Victoria dan terlepas dari masalah kesehatan yang berlanjut maka pembatasan yang sedang berlangsung dan pemanggilan kembali dukungan pendapatan akan membebani ekonomi dan diperkirakan perlu waktu hingga awal 2022 untuk aktifitas bisnis kembali ke level sebelum pandemi.

Pada bulan Maret lalu RBA telah memangkas suku bunga ke rekor terendahnya di 0.25% dan pada hari Selasa kemarin mereka telah memperluas fasilitas pendanaan murahnya bagi para pemberi pinjaman negara untuk menjaga aliran kredit berbiaya rendah dalam perekonomian.(WD)

Related posts