Header Ads

Ekonomi Cina Meningkat Melebihi Ekspektasi

Selama periode kuartal keempat di tahun lalu, laju pertumbuhan ekonomi Cina mengalami peingkatan pesat mengalahkan ekspektasi seiring berakhirnya serangan virus corona yang parah di tahun lalu, dan ekonomi tetap siap untuk berkembang lebih jauh di tahun ini bahkan disaat pandemi masih belum berakhir hingga kini.

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu mengejutkan banyak orang dengan kecepatan pemulihannya dari guncangan virus corona, terutama karena pembuat kebijakan juga harus menavigasi hubungan AS-China yang tegang dalam perdagangan dan bidang lainnya.

Biro Statistik Nasional merilis data Produk Domestik Bruto meninngkat 6.5% di tingkat tahunan pada kuartal keempat lalu, yang lebih cepat dari perkiraan 6.1% oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters, menyusul kuartal ketiga yang tumbuh 4.9%.

Data juga menunjukkan bahwa PDB tumbuh 2.3% di tahun 2020, dan menjadikan Cina sebagai satu-satunya negara ekonomi utama di dunia yang menghindari kontraksi di tahun lalu, karena banyak negara yang berjuang untuk menahan pandemi Covid-19, sehingga diperkirakan negara tersebut akan terus berkuasa di depan negara-negara utama lainnya di tahun ini, seiring para ekonom yang memperkirakan PDB akan meningkat pada laju tercepat dalam satu dekade di angka 8.4% menurut jajak pendapat Reuters.

Xing Zhaopeng yang menjabat sebagai ekonom di ANZ di Shanghai, mengatakan bahwa angka PDB yang lebih tinggi dari perkiraan menunjukkan bahwa pertumbuhan telah memasuki zona ekspansif, meskipun sejumlah sektor masih dalam pemulihan dan keluarnya kebijakan akan menimbulkan tekanan kontra-siklus pada pertumbuhan di tahun ini.

Kekuatan ekonomi Asia telah didorong oleh sektor ekspor yang sangat tangguh, tetapi konsumsi China, pendorong utama pertumbuhan telah tertinggal dari ekspektasi di tengah kekhawatiran kebangkitan kembali kasus COVID-19.

Melemahnya konsumsi diikuti oleh penjualan ritel yang turun 3.9% di tahun lalu, menandai kontraksi pertama sejak tahun 1968, yang mana pertumbuhan penjualan ritel di bulan Desember meleset dari perkiraan analis dan turun menjadi 4.6% dari 5.0% di bulan November akibat dari melambatnya penjualan produk pakaian, kosmetik, telekomunikasi dan otomotif.

Akan tetapi sektor manufaktur Cina yang tumbuh secara lebih luas, terus mendapatkan momentumnya dengan produksi industri yang mengalami kenaikan di tingkat yang lebih cepat dari perkiraan sebesar 7.3% di bulan lalu dari tahun sebelumnya, hingga mencapai level tertinggi sejak Maret 2019.

Kepala biro statistik Cina Ning Jizhe mengatakan bahwa akan ada banyak kondisi yang menguntungkan untuk menopang pemulihan ekonomi Cina di tahun ini, menandai dimulainya rencana lima tahun ke-14 yang menurut pembuat kebijakan penting untuk mengarahkan ekonomi melewati apa yang disebut sebagai “middle income trap”.(WD)

Related posts