Ekonomi Hong Kong Melemah Di Kuartal Keempat Pada 2018 Lalu

Sekretaris Keuangan Hong Kong, Paul Chan saat mengumumkan anggaran Hong Kong menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi di pusat keuangan Asia tersebut mengalami penurunan di periode kuartal keempat lalu. Perekonomian Hong Kong yang bersifat terbuka dan sangat bergantung kepada sektor perdagangan, telah diliputi oleh risiko eksternal, termasuk perang perdagangan AS-Cina, perlambatan ekonomi Cina, penurunan harga properti serta volatilitas pasar saham global. Chan mengatakan bahwa ekonomi Hong Kong tumbuh sebesar 1.3% di kuartal keempat dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Meskipun demikian kenaikan ini menjadi kenaikan terlemah yang dialami ekonomi Hong Kong sejak kuartal pertama 2016 lalu, dan masih lebih lambat dari pertumbuhan 2.8% yang direvisi turun di periode tiga bulan sebelumnya. Secara keseluruhan ekonomi Hong Kong tumbuh 3% selama tahun 2018, sedikit lebih lambat dari perkiraan pemerintah di kisaran 3.2% sebelumnya.

Salah seorang ekonom di ING, Iris Pang dalam sebuah laporannya mengatakan bahwa pertumbuhan yang lebih lemah dari harapan tersebut, diakibatkan oleh dampak yang timbul dari perselisihan perdagangan AS-Cina yang meredam kegiatan ekspor dan pasar tenaga kerja, baik di Hong Kong maupun di Cina Daratan, sehingga memberikan dampak negatif bagi konsumsi di Hong Kong.

Untuk tahun ini laju pertumbuhan ekonomi Hong Kong diperkirakan tumbuh 2% hingga 3% di tingkat tahunan, serta rata-rata pertumbuhan sebesar 3% dalam kurun waktu 2020 hingga 2023. Chan juga mengatakan bahwa surplus anggaran Hong Kong diperkirakan berada di kisaran HK$58.7 milliar ($&.5 milliar) di periode 2018-2019, atau mencatat kurang dari setengah besaran batasan surplus sebesar HK$148.9 milliar, yang ditetapkan di tahun fiskal sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi yang sangat bergantung pada sektor perdagangan, dinilai rentan terhadap terjadinya ketegangan perdagangan yang terjadi diantara dua negara ekonomi terbesar dunia dan jika tidak tercapai kesepakatan diantara keduanya maka akan menimbulkan risiko yang lebih luas di wilayah tersebut. Sebagai salah satu ekonomi paling terbuka dan bebas di dunia, pertumbuhan Hong Kong sangat bergantung pada aliran modal, perdagangan, wisata, dan investasi dari Tiongkok.(WD)

Related posts