Ekonomi Inggris Menyusut Di Kuartal Kedua

Office for National Statistics melaporkan ekonomi Inggris yang mengalami penyusutan hingga ke rekornya di angka -20.4% di rentang waktu April hingga Juni seiring lokcdown yang ketat sehingga mencatat kontraksi terbesarnya, menyusul potensi gelombang kehilangan pekerjaan yang akan terjadi di akhir tahun 2020.

Selain itu angka resmi yang diterbitkan pada hari ini juga menunjukkan bahwa negara ekonomi terbesar keenam di dunia tersebut, telah memasuki resesi akibat penyusutan ekonomi selama dua kuartal secara berturut-turut.

Sejumlah analis mengatakan bahwa bagaimanapun hal ini kemungkinan akan mencerminkan laju aktifitas ekonomi yang tengah mengejar ketertinggalan dalam aktifitas yang mengalami tekanan selama berlakunya lockdown.

Jonathan Athow dari Office for National Statistics mengatakan bahwa resesi yang disebabkan oleh pandemi virus corona telah menyebabkan laju penurunan terbesar dalam catatan GDP triwulanan, dan ekonomi mulai bangkit kembali di bulan Juni meskipun tingkat GDP di bulan Juni masih tetap berada di urutan keenam di bawah levelnya pada bulan Februari, sebelum terjadinya pandemi.

Pada pekan lalu Bank of England memperkirakan akan membutuhkan waktu hingga kuartal terakhir 2021 bagi ekonomi untuk mendapatkan kembali ukuran sebelumnya, dan memperingatkan pengangguran kemungkinan akan meningkat tajam.

Menurunnya nilai GDP selama kuartal kedua hampir sejalan dengan perkiraan rata-rata dari para ekonom dalam jajak pendapat Reuters, dan data ini melebihi penurunan sebesar 12.15 di Eurozone serta penurunan 9.5% dalam periode kuartalan di AS.

Suren Thiru, seorang ekonom di Kamar Dagang Inggris, mengatakan kenaikan menjelang akhir kuartal mungkin hanya mencerminkan pelepasan permintaan yang terpendam daripada awal kebangkitan berkelanjutan.

Lebih lanjut Thiru mengatakan bahwa prospek pemulihan berbentuk “V” dalam kurun waktu yang cepat sepertinya masih jauh dari harapan, karena kenaikan output baru-baru ini dapat memudar selama beberapa bulan mendatang akibat kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi akan semakin menambah beban kepada aktifitas ekonomi, terutama disebabkan oleh langkah-langkah dukungan dari pemerintah telah sedikit mereda.

ONS mengatakan bahwa selama enam bulan pertama tahun 2020, PDB Inggris turun 22,1%, hanya sedikit lebih rendah dari kontraksi Spanyol 22,7% tetapi lebih dari dua kali lipat penurunan 10,6% di Amerika Serikat.

Sementara itu data penjualan ritel di bulan Juni yang diterbitkan sebelumnya, menunjukkan laju pengeluaran di luar bahan bakar berada di atas level tahun lalu dan angka yang diterbikan oleh Barclaycard menunjukkan bahwa belanja konsumen secara keseluruhan telah mendekati level sebelum terjadinya krisis pada bulan Julu lalu.

Namun demikian sektor bisnis masih merasa khawatir mengenai prospek serta risiko pengangguran meningkat tajam menjelang akhir tahun ini saat program dukungan bagi lapangan pekerjaan akan berakhir, menyusul para pengusaha telah kehilangan lebih dari 700 ribu posisi pekerjaan sejak bulan Maret lalu.(WD)

Related posts