Ekonomi Inggris Tumbuh Lebih Lambat Di Bulan Agustus

Sebuah data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris menunjukkan bahwa ekonomi Inggris tumbuh jauh lebih lambat dari yang diharapkan pada bulan Agustus, dengan sebagian besar laju pertumbuhan mengalami penurunan hingga memaksa pemerintah untuk merilis program subsidi restorasi dari pemerintah.

Produk domestik bruto mencatat kenaikan 2.1% dari bulan Juli, yang mana ini kenaikan bulanan paling lambat sejak ekonomi memulai pemulihannya di bulan Mei pasca mencatat rekor kemerosotan, dan bahkan angka ini kurang dari setengah perkiraan median 4.6% dalam jajak pendapat Reuters terhadap ekonom.

Suren Thiru yang menjabat sebagai kepala ekonomi di British Chambers of Commerce, mengatakan bahwa seiring data terbaru yang mengkonfirmasi rebound dalam aktifitas ekonomi berlanjut hingga Agustus lalu, perlambatan tajam dalam pertumbuhan menunjukkan bahwa pemulihan kemungkinan akan kehabisan tenaga dengan output yang masih jauh di bawah level sebelum terjadinya krisis.

Lebih lanjut Thiru juga mengatakan bahwa peningkatan aktifitas di bulan Agustus sebagian besar mencerminkan dorongan sementara dari kebijakan dibukanya kembali aktifitas ekonomi dan stimulus pemerintah, termasuk skema “Eat Out to Help Out”, dibandingkan bukti pemulihan kurva berbentuk “V” yang berkelanjutan.

Office for National Statistics menyampaikan bahwa lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi di Agustus berasa dari sektor akomodasi dan makanan, dimana terjadi lonjakan output hingga 71.4%, didukung skema “Eat Out to Help Out” untuk memberikan subsidi makanan dan mengurangi pembatasan kebijakan lockdown.

Lembaga tersebut juga mengatakan bahwa perekonomian Inggris, yang mengalami penyusutan lebih besar dari negara anggota G7 lainnya selama periode April-Juni, dinilai masih lebih kecil sekitar 9.2% dari level yang dicapainya sebelum pandemi melanda Inggris.

Sektor jasa yang dominan tumbuh sebesar 2.4% dari bulan Juli, jauh lebih lambat dari ekspektasi untuk pertumbuhan sebesar 5.0%, sementara laju pertumbuhan di sektor manufaktur dan konstruksi yang lebih kecil, juga tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya.

Sejumlah ekonom telah memperingatkan bahwa ekonomi Inggris kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk mengalami pertumbuhan di bulan-bulan mendatang karena meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di bulan September dan pemerintah telah merespons dengan memperketat pembatasan terhadap warga yang berkumpul.

Pada hari Kamis kemarin Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan bahwa risiko terhadap ekonomi Inggris “sangat menurun” dan bank sentral siap menggunakan kekuatan kebijakannya untuk membatasi dampak dari gelombang kedua kasus COVID-19.

BoE secara luas diharapkan untuk meningkatkan program pembelian obligasi pada bulan November dalam langkah selanjutnya untuk memompa lebih banyak stimulus ke dalam perekonomian.

Selain itu ekonomi Inggris juga menghadapi risiko gagal untuk mengamankan kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa, menyusul negosiasi yang masih berlangsung menjelang berakhirnya periode transisi pasca Brexit di akhir Desember mendatang.(WD)

Related posts