Header Ads

Ekonomi Jepang Kembali Mencatat Penurunan Lebih Dalam

Sebuah data terbaru menunjukkan bahwa perekonomian Jepang merosot lebih dalam ke jurang kontraksi terburuknya pasca perang dunia II di periode kuartal kedua akibat pandemi yang mengguncang sektor bisnis, yang mana ini menggarisbawahi tugas yang semakin berat yang dihadapi oleh perdana menteri baru dalam mencegah terjadinya resesi yang lebih dalam.

Sementara data lainnya semakin menimbulkan tantangan dalam perspektif ekonomi Jepang, seiring pengeluaran rumah tangga dan tingkat upah dilaporkan turun di bulan Julu, akibat dampak pandemi yang membuat konsumsi tetap lemah bahkan setelah kebijakan lockdown dicabut pada bulan Mei lalu.

Kantor kabinet Jepang merilis data produk domestik bruto (PDB) yang direvisi yang menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami penyusutan 28.1% di tingkat tahunan pada periode April-Juni, yang mana penyusutan ini lebih besar dari pembacaan awal di angka 27.8% sehingga mencatat kontraksi terburuknya.

Hasil data tersebut akan menempatkan perdana menteri yang baru pengganti Shinzo Abe, yang akan dipilih dalam pemilihan kepemimpinan partai yang berkuasa pada 14 September mendatang, akan berada di bawah tekanan untuk mengambil langkah-langkah kebijakan yang lebih berani guna mendukung ekonomi.

Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga, kandidat terdepan untuk menjadi perdana menteri berikutnya, telah mengisyaratkan kesiapannya untuk meningkatkan pengeluaran jika dia akan memimpin negara.

Ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, Koichi Fujishiro mengatakan bahwa risiko ke depannya adalah bahwa efek dari tindakan yang diambil sejauh ini, seperti pembayaran ke sektor rumah tangga, akan mereda dan jika pandemi Covid-19 semakin membebani upah maka pemerintah baru setidaknya dapat mengambil langkah tambahan untuk membantu sektor rumah tangga.

Penyebab utama di balik penurunan revisi PDB hari Selasa adalah penurunan belanja modal 4,7%, jauh lebih besar dari penurunan awal 1,5%, yang menunjukkan pandemi itu melanda sektor-sektor ekonomi yang lebih luas.

Selama tiga kuartal berturut-turut ekonomi Jepang telah mengalami kontraksi dan saat ini telah menunjukkan sejumlah tanda-tanda kebangkitan, seiring output pabrik mengalami peningkatan selama bulan Juli dalam laju tercepatnya berkat kenaikan permintaan produk otomotif.

Namun sebuah data terpisah di hari ini telah menunjukkan kemungkinan laju pemulihan akan berjalan secara moderat, menyusul pengeluaran rumah tangga yang turun 7.6% lebih besar dibandingkan perkiraan di bulan Juli pada tingkat tahunan, sementara upah riil juga mencatat penurunan dalam lima bulan secara beruntun sehingga menunjukkan lebih banyak tekanan terhadap belanja konsumen.

Analis yang disurvei oleh Reuters pada bulan Agustus mengatakan mereka memperkirakan ekonomi Jepang akan menyusut 5,6% pada tahun fiskal saat ini hingga Maret mendatang, dan tumbuh hanya 3,3% pada tahun berikutnya.

Secara lebih luas Bank of Japan diperkirakan akan menunda peningkatan stimulus untuk saat ini, menyusul langkah-langkah untuk memacu permintaan yang membuat para warga Jepang bergerak lebih bebas di toko-toko.(WD)

Related posts