Ekonomi Jepang Mengalami Kontraksi

Ekonomi Jepang mengalami kontraksi selama tiga bulan hingga September karena serangkaian bencana alam merugikan ekspor dan pengeluaran oleh wisatawan. Dimana perkonomian terbesar ketiga di dunia tersebut menyusut pada laju tahunan sebesar 1.2% pada kuartal ketiga 2018 menyusul ekspansi 3% pada kuartal sebelumnya, data pemerintah menunjukkannya pada hari Rabu. Disaat ekonom yang disurvei oleh penyedia data, Quick, memperkirakan untuk kontraksi sebesar 1.0%.

Sementara banyak analis memperkirakan ekonomi akan kembali ke pertumbuhan pada kuartal Oktober-Desember, prospek jangka panjang tetap berawan karena efek potensial yang berlebihan dari sengketa perdagangan antara AS dan China.

Konsumsi swasta, yang menyumbang hampir 60% dari produk domestik bruto, turun 0.1% pada kuartal ketiga. Cuaca buruk membuat konsumen untuk tetap berada di rumah, sementara kenaikan harga makanan segar dan energi membuat mereka enggan membelanjakannya di tempat lain, kata ekonom.

Belanja modal turun 0.2%, yang merupakan penurunan pertama dalam delapan kuartal setelah perusahaan meningkatkan investasi mereka dalam teknologi hemat tenaga kerja selama kuartal kedua.

Analis mengatakan bahwa dampak pada PDB nasional dari bencana alam akan bersifat sementara, tetapi gesekan perdagangan tetap merupakan risiko.

“Jika perang perdagangan AS-Cina meningkat, ekonomi Jepang lebih mungkin berubah menjadi resesi yang disebabkan oleh perlambatan ekspor,” kata Taro Saito, ekonom di NLI Research Institute.

Related posts