Ekonomi Jepang Menyusut Dalam Laju Tercepatnya Di Kuartal Terakhir 2019

Sejumlah kalangan analis menilai bahwa ekonomi Jepang akan menyusut di laju tercepatnya dalam hampir enam tahun di kuartal terakhir tahun lalu, akibat kenaikan pajak penjualan yang menghantam pengeluaran konsumen dan bisnis, serta diperburuk oleh meningkatnya risiko wabah virus corona.

Disebutkan bahwa dampak epidemi yang meluas, yang merusak output dan pariwisata, berpotensi merusak pertumbuhan pada kuartal saat sekaligus mendorong ekonomi Jepang ke dalam resesi.

Taro Saito selaku executive research fellow di NLI Research Institute, mengatakan bahwa ada peluang perekonomian akan mengalami kontraksi di periode Januari-Maret, yang sebagian besar diakibatkan oleh wabah virus yang akan memberikan hantaman di sektor pariwisata dan ekspor, namun juga dapat menekan konsumsi domestik, dan jika epidemi ini tidak mampu ditahan hingga berlangsungnya Olimpiade Tokyo, maka kerusakan terhadap ekonomi Jepang akan semakin besar.

Pada hari ini pemerintah Jepang telah merilis data Produk Domestik Bruto yang mengalami penyusutan hingga 6.3% di tingkat tahunan pada periode Oktober-Desember, yang mana ini jauh lebih cepat dari perkiraan rata-rata dari para pelaku pasar di angka 3.7% dan sekaligus mencatat penurunan untuk pertama kalinya dalam lima kuartal terakhir.

Ini menjadi penurunan terbesarnya sejak kuartal kedua di tahun 2014 lalu, di saat sektor konsumsi terpukul oleh kenaikan pajak penjualan di bulan April pada tahun tersebut.

Kebijakan kenaikan pajak penjualan terbaru di bulan Oktober tahun lalu, serta ditambah cuaca hangat yang luar biasa yang merugikan laju penjualan barang musim dingin, telah membebani sektor konsumsi swasta yang mengalami kemerosotan hingga 2.9%, yang lebih besar dari perkiraan awal.

Dilaporkan bahwa pengeluaran modal turun sebesar 3.7% di kuartal keempat, jauh lebih cepat dari perkiraan median untuk penurunan sebesar 1.6% dan mencatat penurunan pertama dalam tiga kuartal terakhir.

Melemahnya pengeluaran modal, yang dianggap sebagai salah satu dari sejumlah poin penting bagi perekonomian, telah menimbulkan keraguan terhadap penilaian bank sentral Jepang terhadap pertumbuhan yang dipandang akan berkembang secara moderat menyusul laju permintaan domestik yang kuat mampu menebus kelemahan di sektor ekspor.

Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan pemerintah siap untuk mengambil semua langkah yang diperlukan dan sekaligus akan mengamati cengan cermat dampak wabah virus corona terhadap laju ekonomi, khususnya sektor pariwisata.

Dalam sebuah pernyataannya pasca merilis data GDP, Nishimura mengatakan bahwa pemerintah berharap ekonomi Jepang akan mampu melanjutkan pemulihan secara moderat, namun pihaknya harus tetap waspada terhadap dampak penyebaran virus terhadap ekonomi domestik dan global.

Akan tetapi masih banyak analis yang meragukan apakah pemerintah dan bank sentral memiliki langkah efektif guna melawan ancaman resesi, mengingat amunisi kebijakan mereka yang telah berkurang.

Seperti yang disampaikan oleh Takeshi Minami selaku Kepala Ekonom di Norinchukin Research Intitute, yang mengatakan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk menanggapi kenaikan pajak penjualan serta perlambatan pasca Olimpiade, sehingga pasar tidak dapat mengharapkan langkah lebih lanjut di sektor fiskal.

Para pembuat kebijakan Jepang telah memperingatkan bahwa laju ekonomi akan mengalami kontraksi pada periode Oktober-Desember karena kenaikan pajak penjualan, bencana topan, dan perang dagang AS-Cina yang telah mengurangi konsumsi dan output pabrik.

Pada bulan lalu Bank of Japan telah mempertahankan kebijakan moneternya tetap stabil, sekaligus mendorong perkiraan pertumbuhan ekonominya dengan harapan bahwa laju pertumbuhan global akan segera pulih di kisaran periode pertengahan tahun ini seiring risiko yang diharapkan akan segera surut.(WD)

Related posts