Header Ads

Ekonomi Jepang Turun Tajam Di Q4 Tahun Lalu

Laju pertumbuhan ekonomi Jepang semakin menunjukkan kelemahannya, bahkan disaat sebelum penyebaran wabah virus corona merebak saat ini, menyusul data yang dirilis memperlihatkan kontraksi ekonomi negara tersebut di kuartal terakhir tahun lalu.

Kantor Kabinet Jepang merilis data produk domestik bruto yang mengalami penyusutan hingga 7.1% pada kuartal keempat di tingkat tahunan dari kuartal sebelumnya, seiring para konsumen yang memangkas pengeluaran mereka setelah diterapkannya kenaikan pajak penjualan serta sektor bisnis yang memangkas investasi mereka ke level terbesarnya sejak krisis keuangan global.

Secara keseluruhan ini menjadi kontraksi paling tajam sejak kebijakan kenaikan pajak penjualan sebelumnya diterapkan di tahun 2014 silam. Sebelumnya para analis memproyeksikan penurunan 6.6%, sedangkan pemerintah memperkirakan penurunan sebesar 6.3%.

Hingga saat ini epidemi penyebaran virus corona telah memupus harapan terhadap rebound pertumbuhan ekonomi di awal tahun ini, seiring dampak wabah virus telah menyebar dari ekspor dan jaringan pasokan hingga ke sektor konsumsi domestik, industri pariwisata dan investasi.

Hal ini menjadi masalah terbaru bari Perdana Menteri Shinzo Abe yang telah meluncurkan paket stimulusnya di akhir tahun lalu, seiring semakin banyaknya analis yang memperkirakan bahwa ekonomi Jepang akan kembali mengalami penyusutan lebih dari 2% di kuartal pertama tahun ini.

pasar mengharapkan Abe akan memberikan rincian mengenai langkah-langkah darurat terbaru bagi ekonomi Jepang, namun hingga saat ini belum jelas apa yang bisa dilakukan untuk memicu laju pertumbuhan di tengah epdidemi virus yang membuat para konsumen enggan untuk keluar rumah.

Masaaki Kanno selaku ekonom di Sony Financial Holdings menilai bahwa semua ini merubah lingkungan ekonomi menjadi lebih sulit, dan ketakutan di kalangan konsumen menjadi sebuah hambatan terbesar sehingga memicu ketidakyakinan bahwa ekonomi akan pulih di kuartal kedua mendatang.

Kinerja ekonomi di kuartal terakhir tahun lalu yang buruk, cenderung memicu kecaman bahwa pemerintahan Abe tidak mampu melakukan langkah yang cukup untuk meredam dampak kenaikan pajak penjualan, dan Abe dinilai perlu untuk mengumumkan paket pengeluaran fiskal besar lainnya.

Kelemahan ekonomi yang berkelanjutan juga menciptakan dilema bagi Bank of Japan, yang sebagian besar menghabiskan amunisi kebijakannya. 

Saat ini BoJ kemungkinan akan mempertimbangkan untuk memangkas penilaian ekonomi secara keseluruhan pada pertemuan kebijakan mereka di pekan depan.

Salah seorang ekonomi di Bloomberg, Yuki Masujima mengatakan bahwa dengan laju pertumbuhan ekonomi yang terkena dampak epidemi virus, maka kontraksi back-to-back kemungkinan dapat terjadi, yang mana pemerintah dan bank sentral diharapkan untuk menyiapkan amunisinya guna meningkatkan stimulus sebagai persiapan menghadapi resesi.

Secara detail dilaporkan bahwa laju konsumsi swasta turun 2.8%, masih sedikit lebih baik dari perkiraan penurunan 2.9% dari para ekonom, yang dilatarbelakangi oleh bencana topan dan cuaca musim dingin yang lebih hangat sehingga memberikan beban bagi laju pengeluaran selama periode tersebut.

Sedangkan investasi sektor bisnis turun hingga 4.6%, yang merupakan penurunan terbesarnya sejak kuartal pertama tahun 2009 silam.(WD)

Related posts