Ekspor Cina Tumbuh Di Bulan Februari

General Administration of Customs merilis data ekspor Cina yang mencatat kenaikan di bulan Februari lalu, sekaligus mencatat kenaikan dalam dua bulan pertama di tahun 2021, sehingga tren kenaikan ini mencerminkan permintaan global yang kuat terhadap barang-barang manufaktur.

Ekspor Cina di bulan Februari naik sebesar 60.6% di tingkat tahunan, mencatat pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan 38.9% serta melonjak dari kenaikan 18.1% di bulan Januari, namun demikian angka tersebut masih dipengaruhi oleh basis angka ekspor yang rendah di tahun 2020 saat ekonomi Cina ditutup akibat Covid-19.

Kenaikan ekspor ini tercatat dua kali lipat dari bulan yang sama di tahun 2020 lalu, terlepas dari volatilitas yang biasanya terlihat dalam aktifitas ekonomi Cina selama dua bulan pertama di tahun ini akibat dari liburan Tahun Baru Imlek.

Jika dilihat dari perbandingan di saat tahun 2020 lalu, ketika aktifitas pabrik dan bisnis ditutup sebagai upaya meredam penyebaran Covid-19, maka hasil data tersebut mendistorsi angka yang lebih tinggi di tahun 2021 ini.

Laju permintaan yang kuat untuk produk peralatan medis serta perangkat untuk bekerja dari rumah, menjadi faktor yang membantu mendukung pemulihan ekonomi Cina dari pandemi sejak periode paruh kedua di tahun 2020 ini, yang mana hal ini juga terus memberikan dukungan peningkatan ekspor.

Selain itu laju permintaan juga mendapat dukungan dari meningkatnya kondisi yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 di sejumlah mitra dagang utama Cina seperti AS dan Eropa.

Masa istirahat yang lebih pendek dari biasanya bagi para pekerja migran selama liburan Tahun Baru Imlek dan dimulainya kembali produksi pabrik yang lebih awal, dinilai menjadi penyebab bagi meningkatnya ekspor di negeri Tirai Bambu tersebut.

Sebelumnya wabah virus corona yang masih melanda di awal tahun ini, telah membuat banyak pekerja yang enggan melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman sebagai tradisi selama liburan Tahun Baru Imlek.

Dalam sebuah catatannya seorang analis di Nomura Holdings mengatakan bahwa laju pertumbuhan perdagangan masih cukup solid, jika tidak memasuki unsur distorsi dari efek dasar, sementara pertumbuhan ekspor kemungkinan akan mengalami perlambatan setelah bulan Maret ini karena efek dasar yang mereda.

Lebih lanjut disebutkan bahwa langkah-langkah stimulus baru di negara-negara maju, terutama di AS dinilai dapat meningkatkan laju permintaan eksternal untuk produk-produk Cina dan sebagian lagi akan mampu mengimbangi tekanan ke bawah.

Sedangkan pihak Bloomberg menilai bahwa laju impor yang tumbuh sebesar 22.2% di tingkat tahunan, sangat berlawanan dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 15% dari para analis serta jauh diatas pertumbuhan 6.5% di bulan Januari, sehingga data tersebut menunjukkan perbedaan antara industri berat dan sektor teknologi tinggi dengan sejumlah sektor yang berkinerja lebih baik.

Dengan demikian besaran neraca perdagangan berada di angka $ 103.25 milliar, berlawanan dengan laju perkiraan sebesar $ 60 milliar dan lebih tinggi dari perolehan neraca perdagangan di bulan Januari sebesar $ 78.17 milliar.(WD)

Related posts