Header Ads

Ekspor Cina Tumbuh Lebih Dari Ekspektasi

Data yang dirilis oleh pihak Bea Cukai menunjukkan bahwa laju ekspor Cina di bulan Desember dilaporkan tumbuh lebih dari yang diharapkan, seiring gangguan virus corona di seluruh belahan dunia yang telah memicu permintaan barang-barang produk Cina, bahkan saat mata uang Yuan yang lebih kuat telah membuat ekspor menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Pemulihan domestik yang kuat juga mendorong minat Cina untuk produk asing pada bulan Desember, dengan pertumbuhan impor yang semakin cepat dari bulan sebelumnya dan mengalahkan ekspektasi dalam jajak pendapat Reuters.

Laju ekspor dilaporkan naik 18.1% di bulan Desember dari periode yang sama di tahun sebelumnya, lebih lambat dari lonjakan 21.1% di bulan November, namun masih lebih tinggi dari ekspektasi kenaikan 15%, sementara impor meningkat 6.5% di periode tahunan pada bulan Desember, melampaui perkiraan 5% sekaligus melaju lebih cepat dari pertumbuhan 4.5% di bulan November.

Lonjakan ekspor telah membantu mendorong rebound di sektor manufaktur Cina di tahun lalu, karena pandemi telah mendatangkan guncangan di luar negeri, dan Cina diperkirakan akan menjadi satu-satunya negara ekonomi besar yang mengalami laju pertumbuhan positif di tahun 2020 lalu, yang mana ekspor tumbuh sebesar 3.6% selama setahun penuh dan impor mencatat penurunan sebesar 1.1%.

Li Kuiwen selaku juru bicara Bea Cukai Cina, mengatakan bahwa di saat pandemi masih berlangsung akan menjadi tantangan, laju pemulihan ekonomi global dan pemulihan yang stabil dalam ekonomi domestik Cina sehingga memberikan landasan bagi negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut untuk mempertahankan laju pertumbuhan perdagangan di tahun 2021 ini.

Para analis mengatakan permintaan berkelanjutan untuk pasokan medis dan produk yang mendukung warga untuk kerja dari rumah dari mitra dagang yang terkena virus korona harus mendukung ekspor Cina, namun beberapa diantaranya merasa khawatir bahwa kenaikan harga bahan mentah dan nilai tukar Yuan dapat menekan keuntungan eksportir.

Sementara itu ekonom senior Cina di Capital Economics Julian Evans-Pritchard mengatakan dalam catatan penelitiannya, bahwa ekspor terus berjalan dengan baik di bulan Desember lalu, seiring kebijakan lockdown baru di luar negeri yang memastikan pergeseran konsumsi dari jasa ke barang mampu bertahan di banyak negara mitra dagang Cina.

Akan tetapi Evans-Pritchard memperkirakan bahwa ekspor dan impor akan mengalami penurunan di akhir tahun ini, karena stimulus 2020 telah habis dan konsumsi luar negeri kembali ke pola pra-pandemi karena vaksin telah mendorong pemulihan dan pihaknya berpikir bahwa perdagangan akan tetap tangguh dalam waktu dekat namun akan melemah di akhir tahun ini.

Cina membukukan surplus perdagangan sebesar $ 78.17 milliar pada bulan Desember, yang menjadi pembacaan tertinggi pada catatan Refinitiv sejak tahun 2007, sedangkan analis dalam jajak pendapat memperkirakan surplus perdagangan menyempit menjadi $ 72.35 milliar dari $ 75.40 milliar pada bulan November.

Pada kesempatan lainnya dilaporkan bahwa Presiden terpilih AS Joe Biden mengatakan bahwa dirinya tidak akan segera membatalkan perjanjian perdagangan fase pertama yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump dengan Cina, atau bahkan akan mengambil langkah-langkah untuk menghapus tarif ekspor barang-barang Cina.(WD)

Related posts