Emerging Markets Berpotensi Hadapi Ancaman Efek Domino Krisis Turki

Ketika pasar keuangan Turki melemah, mengancam ekonomi banyak negara, para investor mengukur apakah pasar negara berkembang berada dalam bahaya atau dapat bertahan. Mengikuti data yang dirilis, terlihat ada kelemahan di Argentina dan Afrika Selatan. Argentina, dengan defisit bersih terbesar saat ini adalah salah satu pasar yang diperkirakan menderita di bawah penguatan dollar AS. Sementara Asia dan Meksiko menunjukkan kekuatan.

Penurunan lira Turki telah memicu gelombang penjualan aset di seluruh pasar berkembang, menghidupkan kembali kekhawatiran adanya penularan yang telah menjadi kelemahan selama beberapa dekade. Investor beralih ke aset-aset yang lebih aman seperti obligasi pemerintah dan dollar AS.

Harga saham turun secara signifikan sementara imbal hasil obligasi pemerintah naik di pasar negara berkembang. Namun penurunan harga saham lebih lanjut dapat berubah menjadi peluang beli yang baik.

Ekuitas pasar negara berkembang yang diukur dalam dollar AS sangat terkait dengan kinerja mata uang lokal. Masalah lira sejauh tahun ini hanya sebanding dengan peso Argentina dan keduanya telah membuat pengembalian saham negatif yang tajam dalam dollar. Peso Meksiko adalah salah satu dari beberapa mata uang negara berkembang yang naik tahun ini dan pasar sahamnya telah mengungguli indeks MSCI Emerging Markets lebih dari 900 basis poin.

“Ada keengganan mengambil risiko yang dirasakan investor. Dipicu oleh aksi jual besar-besaran mata uang lira. Kita melihat aksi jual ini semakin besar dan di emerging market kondisinya sama buruknya,” jelas ekonom Investec Philip Shaw. Dia merujuk pada mata uang rand Afrika Selatan dan peso Meksiko, di mana keduanya sudah anjlok sekitar 2.5%. Dua mata uang ini merupakan contoh mata uang yang terpukul paling parah di emerging market.

“Anjloknya lira, yang dimulai sejak Mei, sekarang terlihat jelas juga ikut menekan ekonomi Turki. Dan hal ini bisa memicu terjadinya krisis perbankan. Ini bisa menjadi pukulan lain bagi aset-aset emerging market,” jelas Andrew Kenningham, chief global economist Capital Economics.

Argentina dan Turki kembali unggul dalam ukuran imbal hasil hutang pemerintah yang merambat ke US Treasuries. Ketika mata uang mereka melemah dan kemampuan mereka untuk menumbuhkan ekonomi dipertanyakan, investor menuntut lebih banyak upaya dan hasil untuk menahan hutang negara-negara ini semakin besar. (hdr)

Related posts