Header Ads

Euro Melonjak Seiring Dukungan Stimulus ECB

Mata Euro melonjak ke level tertingginya dalam tiga bulan terakhir di sesi perdagangan hari ini, setelah kemarin European Central Bank memperluas kebijakan stimulusnya lebih dari yang diharapkan untuk menopang perekonomian yang tengah memasuki resesi terburuknya sejak Perang Dunia II.

Langkah ECB telah mendukung selera pasar terhadap mata uang berisiko, sehingga mampu mengangkat mata uang Aussie ke level tertingginya dalam lima bulan serta Poundsterling ke level puncak dalam dua bulan terakhir.

Bank sentral Eropa telah meningkatkan skema pembelian obligasi darurat sebesar 600 milliar Euro menjadi sekitar 1.35 triliun dan memperpanjang durasi skema tersebut hingga pertengahan 2021.

Hingga siang hari ini mata uang Euro telah mencatat kenaikan 0.25% ke level tertingginya dalam hampir tiga bulan terakhir dan selama pekan ini mata uang tunggal tersebut telah mencatat kenaikan sebesar 2.4% dan ditetapkan untuk meraih kenaikan dalam tiga pekan berturut-turut.

Tingkat kepercayaan investor terhadap Euro juga tumbuh setelah Jerman pada bulan lalu telah melepaskan diri dari tradisi dengan menolak gagasan dana pemulihan Uni Eropa dan sekaligus menolak langkah menuju integrasi fiskal di kawasan pengguna mata uang tunggal tersebut.

Zach Pandl selaku co-head of global foreign exchange di Goldman Sachs New York berkomentar bahwa tindakan yang dilakukan oleh Komisi Eropa dan ECB baru-baru ini telah mengurangi risiko di seputar prospek ekonomi di kawasan Euro, dan tantangan utama Eropa adalah tidak lengkapnya arsitektur kebijakan fiskal sehingga lembaga-lembaga Eropa telah membuat perubahan penting untuk memperbaiki kelemahan tersebut, termasuk pembelian obligasi ECB serta proposal dana pemulihan dari Uni Eropa yang akan sangat membantu meningkatkan koordinasi kebijakan fiskal di kawasan Euro.

Laporan klaim pengangguran mingguan AS yang dirilis semalam, menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan turun di bawah 2 juta minggu lalu untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret, meskipun itu masih tiga kali lebih besar dari puncaknya selama krisis keuangan global.

Data ketenagakerjaan resmi AS yang dijadwalkan pada malam nanti waktu AS diperkirakan akan menunjukkan penurunan sebesar 8 juta pada Mei setelah mencatat rekor 20.54 juta jatuh pada April.(WD)

Related posts