Header Ads

Euro Menguat Namun Masih Berada Dalam Tekanan Terhadap Dollar

Mata uang Dollar terpantau melemah terhadap sejumlah mata uang pesaingnya di sesi perdagangan awal pekan ini, akibat dari meningkatnya ekspektasi kesepakatan perdagangan antara AS dengan Cina yang memberikan dukungan bagi investor untuk beralih kepada aset berisiko.

Kedua negara sama-sama melaporkan adanya kemajuan dalam negosiasi yang berlangsung di Beijing pada pekan lalu, meskipun pihak Gedung Putih menyatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memaksakan perubahan dalam perilaku perdagangan Cina. Para investor berharap akan terjadi kesepakatan pasa saat pertemuan perdagangan selanjutnya di Washington pada pekan depan.

Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets, menilai bahwa saat ini pasar terfokus kepada negosiasi perdagangan antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut, jika hasil pembicaraan menunjukkan sentimen negatif, maka laju mata uang Euro masih akan tetap berada di bawah tekanan pada pekan ini, sementara Yen kemungkinan besar akan menguat jika terjadi aksi hindar risiko di pasar.

Terlepas dari kinerja mata uang Euro yang menguat di sesi perdagangan Asia awal pekan ini, para pelaku pasar tetap mempertaruhkan terjadinya pelemahan di mata uang tunggal tersebut dalam beberapa bulan kedepan, seiring timbulnya harapan bahwa European Central Bank akan menjaga kebijakan moneter tetap bersifat akomodatif menyusul kondisi pertumbuhan Eurozone yang masih lambat, laju inflasi serta ketidakpastian politik yang menyelimuti benua Eropa.

Benoit Coeure, anggota dewan eksekutif ECB, mengatakan pada pakan lalu bahwa putaran baru untuk kebijakan pinjaman murah multi-tahunan ke bank sangat memungkinkan untuk dijalankan, seraya menambahkan bahwa perlambatan ekonomi di Eurozone baru-baru ini sudah sangat terlihat jelas dibandingkan perkiraan sebelumnya, sehingga menunjukkan jalur inflasi yang masih belum stabil.

Pada awal bulan depan, pihak ECB dijadwalkan akan melakukan pertemuan kebijakan secara luas dan diperkirakan akan memangkas proyeksi pertumbuhan serta inflasi di kawasan tersebut, seiring pertumbuhan yang melambat dalam skala terbesarnya dalam lima tahun terakhirnya.(WD)

Related posts