Header Ads

Euro Tergelincir Di Tengah Volume Perdagangan Yang Sepi

Mata uang tunggal Euro tergelincir pada sesi perdagangan hari Selasa, hingga kembali menyentuh level terendahnya dalam dua pekan terakhir, seiring optimisme mengenai peningkatan hubungan dagang AS-Cina mampu memberikan dukungan yang signifikan terhadap Dollar di tengah volume perdagangan yang sepi.

Sementara Poundsterling telah mencatat penurunan selama lima hari berturut-turut dan saat ini masih berada di bawah tekanan Greenback akibat kekhawatiran mengenai Brexit yang menganggu sekaligus ditambah dengan pengurangan likuiditas yang memperbesar tekanan bagi Poundsterling.

Namun demikian para analis mengatakan bahwa ketidakpastian di sekitar sengketa perdagangan Washington dan Beijing akan berlanjut hingga 2020. Hal ini disampaikan oleh David Madden Selaku salah seorang analis di CMC Markets yang menyebutkan bahwa permasalahan perdagangan masih jauh dari selesai, dan nampaknya Trump dapat melanjutkan pertempuran dagang tersebut di tahun depan, dan selama hal itu tidak berdampak pada pertumbuhan AS, maka seharusnya hal ini tidak akan mempengaruhi animo dari para pemilihnya.

Sedangkan mata uang Yuan Cina nampaknya bergerak dalam range yang sempit dan cenderung datar setelah Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan langkah-langkah lebih lanjut untuk menurunkan biaya keuangan perusahaan dan mengisyaratkan pemotongan “yang ditargetkan” pada rasio persyaratan cadangan bank.

Pelemahan Poundsterling dalam beberapa sesi perdagangan terakhir terjadi sejak Perdana Menteri Boris Johnson mengesampingkan untuk memperpanjang masa transisi sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa setelah Desember 2020.

Banyak investor yang merasa khawatir bahwa terlalu sedikit waktu untuk menegosiasikan kesepakatan perdagangan baru dengan pihak Uni Eropa.

Ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh kepala penelitian global G10 FX di bank Standard Chartered, Steve Englander yang mengatakan bahwa pihaknya berharap bahwa kekhawatiran investor mengenai risiko Brexit akan segera berkurang, karena insentif yang datang dari kondisi politik tidak mampu memberikan dukungan risiko adanya gangguan ekonomi.

Englander juga menambahkan bahwa tidak ada alasan untuk mengharapkan kekacauan politik berkurang, yang mana hal ini cenderung tercermin dalam volatilitas yang tinggi.(WD)

Related posts