FTC Akan Menghapus Biaya Pinalti Bagi Retailer Korea Selatan

Badan pengawas anti praktik monopoli di Korea Selatan menetapkan akan menghapus batas 500 juta Won atau sekitar $424,953 sebagai biaya penalti yang dikenakan kepada para pengecer seiring praktik bisnis yang tidak dinilai tidak adil, sembari berharap bahwa untuk merasionalkan sistem penalti tersebut dengan tingkat pelanggaran yang terjadi.

Fair Trade Commission (FTC) Korea Selatan, baru-baru ini akan memulai proses untuk merevisi undang-undang yang melarang kegiatan konglomerat dan pemilik waralaba ritel yang berlaku tidak adil. Lembaga ini telah didirikan selama sembilan tahun lalu, guna mencegah penyalahgunaan daya oleh para pengecer besar terhadap pihak pemasok mereka.

Adapun mereka akan mengubah kriteria untuk menerapkan denda yang sebagian besar didasarkan epada seluruh volume transaksi yang terkait dengan parktik yang tidak adil serta kerusakan yang terjadi sebagai dampak dari pelaksanaan praktik tersebut.

Hal ini dikarenakan akan timbul kesulitan untuk menentukan kisaran transaksi yang lebih tepat, yang mana ini dipengaruhi oleh praktik di industri ritel.

Semuanya ini jauh berbeda dengan sektor manufaktur atau konstruksi, yang mana bisnis ritel memunculkan sedemian banyak kontrak pasokan dalam jumlah besar dan kecil setiap hari dan setiap kontraknya akan terhubung dengan sub-kontrak dalam jumlah yang banyak.

Sebelumnya Fair Trade Commission (FTC) telah menetapkan denda tetap yang jumlahnya berkisar antara 10 juta Won hingga 500 juta Won, tergantung dari beratnya pelanggaran yang dilakukan.

Namun wacana ini akan menjadi sulit, seiring lembaga tersebut yang harus mempertimbangkan untuk melepas aturan berlaku guna memperkuat dari sisi regulasi. Akan tetapi FTC justru tengah nenopertimbangkan untuk meringankan hukuman yang ada terhadap kesalahan sederhana yang terjadi di saat mengeluarkan kontrak tertulis.(WD)

Related posts