GDP Jepang Di Kuartal Pertama Mengalami Penyusutan

Pertumbuhan ekonomi Jepang dilaporkan mengalami penyusutan kurang dari perkiraan di periode kuartal pertama, namun dampak pandemi virus corona yang lebih nampaknya masih akan mengirim ekonomi negara tersebut ke jurang resesi yang lebih dalam.

Serangkaian data ekonomi di bulan April baru-baru ini, termasuk ekspor, output pabrik serta angka pekerjaan telah mengindikasikan bahwa Jepang tengah menghadapi kemerosotan ekonomi terburuk pasca Perang Dunia II, di saat pandemi virus memaksa warga untuk tetap tinggal di rumah dan aktifitas bisnis global ditutup.

Negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut mengalami penyusutan hingga 2.2% di tingkat tahunan pada kurun waktu antara Januari hingga Maret, sedikit lebih tinggi dari perkiraan penurunan oleh median pasar di 2.1% namun masih lebih rendah dari kontrak 3.4% pada pembacaan awal.

Data yang direvisi mengkonfirmasi Jepang telah tergelincir ke dalam resesi untuk pertama kalinya dalam empat setengah tahun terakhir, setelah sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 7.2% di periode Oktober hingga Desember lalu akibat tekanan dari kenaikan pajak penjualan serta dampak dari perang dagang antara AS dengan Cina.

Di tingkat kuartalan, pertumbuhan ekonomi Jepang mengalami kontraksi 0.6% di kuartal pertama, lebih baik dari penurunan 0.9% pada pembacaan awal sebelumnya.

Laju pengeluaran bisnis menunjukkan tingkat keuntungan setelah survei dari Kementerian Keuangan di awal bulan, yang digunakan untuk menghitung laju produk domestik bruto yang direvisi, sementara pengeluaran diperkirakan masih akan tetap giyah dalam beberapa bulan mendatang.

Untuk belanja modal menunjukkan kenaikan 1.9% dari kuartal sebelumnya, berbalik dari penurunan 0.5% di pembacaan awal.

Tingkat konsumsi swasta, yang menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan ekonomi Jepang, dilaporkan turun 0.8% dibandingkan penurunan 0.7% di pembacaan awal, menyusul permintaan yang kuat untuk kebutuhan sehari-hari yang diimbangi oleh penurunan laju pengeluaran untuk sektor jasa.

Untuk ekspor bersih, ekspor dikurangi impor, berkurang sebanyak 0.2 poin persentase dari pertumbuhan GDP Jepang yang direvisi, karana dampak pandemi yang menekan laju permintaan global.

Analis memperkirakan ekonomi akan mengalami kontraksi tahunan lebih dari 20% pada periode April-Juni ketika Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan keadaan darurat dan meminta warga untuk tinggal di rumah dan bisnis ditutup untuk mencegah penyebaran virus.

Meskipun kondisi darurat telah dicabut pada akhir bulan Mei lalu, namun ekonomi diperkirakan akan pulih hanya dalam beberapa bulan mendatang seiring masih besarnya dampak pandemi, baik secara domestik maupun global.

Dalam hal ini Bank of Japan kemungkinan akan mempertahankan proyeksi di bulan ini, yang mana ekonomi akan pulih secara bertahap dari kerusakan pada periode paruh kedua tahun ini.

Seperti diketahui bahwa BOJ melonggarkan kebijakan moneter selama dua bulan berturut-turut pada bulan April, bergabung dengan upaya pemerintah untuk meredam pukulan dari pandemi, sementara pemerintahan Shinzo Abe telah menyusun dua paket stimulus senilai $2.2 triliun.(WD)

Related posts