GDP Jepang Tumbuh Lebih Cepat Di Kuartal Pertama

Laju pertumbuhan ekonomi Jepang secara tidak terduga melaju lebih cepat di periode Januari-Maret, seiring dukungan dari kontrsibusi ekspor yang sekaligus meredakan perkiraan terjadinya kontraksi di ekonomi negara tersebut.

Akan tetapi ekspansi ekonomi yangmengejutkan ini sebagian besar didukung pula oleh penurunanlaju impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor, yang kemungkinan mencerminkan permintaan domestik yang lemah, sehingga menjadi suatu titik kekhawatiran bagi para pejabat bank sentral terhadap rencana kenaikan pajak penjualan yang akan berlaku di bulan Oktober mendatang.

Data awal dari kantor Kabinet menunjukkan bahwa produk domestik bruto Jepang tumbuh 2.1% di tingkat tahunan pada kuartal pertama lalu, yang jauh lebih tinggi dibandingkan estimasi median ekonom yang memperkirakan terjadinya kontraksi 0.2% dalam jajak pendapat oleh Reuters.

Data ini muncul disaat indikator ekonomi pemerintah Jepang memberikan cerminan kemungkinan adanya resesi yang mungkin melanda ekonomi Jepang, akibat dari ekspor dan output pabrik yang mengalami tekanan dari perlambatan ekonomi Cina serta perang kebijakan tarif antara AS-Cina yang dinilai telah mengganggu jaringan pasokan global.

Laju permintaan domestik yang lemah kemungkinan akan mempersulit tantangan bagi para pembuat kebijakan di Jepang, yang hingga saat ini masih mengandalkan sektor permintaan domestik yang kuat untuk mengimbangi tantangan eksternal.

Hingga saat ini banyak seruan dari para pejabat pengambil kebijakan untuk menunda kenaikan pajak penjualan untuk menghadapi kondisi domestik serta eksternal yang semakin memburuk, seperti melemahnya prospek ekonomi, belanja bisnis dan konsumen yang melemah di kuartal pertama serta laju ekspor yang mengalami guncangan.

Untuk tingkat pengeluaran modal dilaporkan turun 0.3% pada periode Januari-Maret. Sementara konsumsi swasta, yang menyumbang sekitar 60% bagi ekonomi Jepang, dilaporkan turun 0.1% di kuartal pertama, sesuai dengan perkiraan pada ekonom, setelah sebelumnya membukukan kenaikan 0.2% di kuartal terakhir tahun lalu. Sedangkan permintaan eksternal, yang didapat dari ekspor dikurangi impor, berhasil naik 0.4 poin persentase ke laju pertumbuhan.

Lemahnya permintaan domestik menyebabkan laju impor turun hingga 4.6% di kuartal pertama, atau lebih cepat dari penurunan laju ekspor sebesar 2.4%, sehingga berhasil memberikan dukungan bagi laju ekspor bersih yang dilaporkan naik pada kuartal pertama.(WD)

Related posts